120 Industri Jadi Pelanggan Baristand Industri Medan

11
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (25/12).

JAKARTA-Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Medan, salah satu unit pelayanan teknis (UPT) yang dimiliki oleh Kementerian Perindustrian, rata-rata per tahun melakukan kegiatan riset sebanyak 1.700 contoh pengujian di laboratoriumnya. Hingga saat ini, sudah ada 120 industri dari berbagai sektor yang telah menjadi pelanggannya.

“Dalam jasa pelayanan, Baristand Industri Medan punya beberapa kompetensi jasa layanan teknis, antara lain jasa pengujian dan inspeksi teknis, kalibrasi, penelitian dan pengembangan, rancang bangun danperekayasaan industri, pelatihan, sertasertifikasi produk (SNI),” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (25/12).

Ngakan juga menyebutkan, dalam hal kegiatan pengujian, Baristand Industri Medan memiliki ruang lingkup pengujian yang dapat dilakukan seperti pengujian mutu lingkungan, agro, kimia, sumber daya alam, mikrobiologi, mekanis dan material teknik.

Pengujian ini telah diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan lingkup 100 parameter serta meraih sertifikat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Dengan motto “Pelayanan Prima”, UPT yang berlokasi di Jalan Sisingamangaraja Nomor 24 Kota Medan ini berkomitmen untuk melakukan setiap kegiatan riset dan pengujian berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan untuk menghindari komplain pelanggan atau mendapat kepuasan dari pelanggan atas jasa layanan yang diberikan. 

“Dalam mendukung pertumbuhan industri khususnya di Sumatera Utara, Baristand Indusri Medan sudah dilengkapi dengan laboratorium kalibrasi yang juga telah diakreditasi oleh KAN. Ruang lingkupnya, antara lain terkait dimensi, massa, suhu, tekanan, optik dan volumetrik,” ungkapnya.

Laboratorium tersebut telah melayani hingga 140 industri dan sebanyak 800 artefak per tahun.

Bahkan, dalam mendukung program penerapan SNI wajib, Baristand Industri Medan pun mempunyai Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) yang telah diakreditasi oleh KAN dengan memiliki 57 ruang lingkup dan sudah menggaet lebih dari 140 pelanggan.

“Pelanggan LSPro Medan tidak saja berasal dari industri lokal yang ada di Indonesia, melainkan juga dari mancanegara seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura, China, Taiwan, Turki, Belarus, Filipina, India, dan Jepang,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Ngakan, Baristand Industri Medan terus berupaya meningkatkan kompetensi jasa layanan teknisnya guna turut memacu kualitas dan daya saing industri di dalam negeri serta mendorong program industri hijau.

“Sehingga pada akhirnya Baristand Industri Medan berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan pengembangan industri nasional khususnya di Sumatera Utara,” ujarnya.

Adapun beberapa hasil riset serta rancang bangun dan perekayasaan unggulan Baristand Industri Medan yang telah diimplementasikan oleh industri di Indonesia, di antaranya peningkatan mutu nozzle untuk saluran aluminium cair di PT. Inalum (tahun 1999), kemudian perekayasaan rotary furnace yang dapat menghasilkan besi cor kelabu dan besi cor nodular dengan lebih baik dibandingkan menggunakan kupola di PT. Sispra Jaya Logam, Riau (2003).

Selain itu, perekayasaan dan pembuatan mesin peralatan pulverized coal untuk peleburan besi tanur putar PT. Sispra Jaya Logam (2008), penelitian pembuatan screw press untuk pabrik kelapa sawit yang memiliki umur pakai lebih tinggi di PTPN IV Kabupaten Simalungun (2009), serta desain dan pembuatan prototipe mesin pengering tenaga surya di CV. Asom Do Mulana, Kab. Labusel (2014).

Selanjutnya, desain peralatan dan pembuatan asam disilane polisulfonat sebagai katalis transesterifikasi minyak kelapa sawit bermutu rendah menjadi biodiesel (2016), perekayasaan dan pembuatan rotary knife Cutter untuk Pabrik Gula di PT. Ridho Jaya Persada, Medan (2016), serta perekayasaan dan rancang bangun material heat resistant fire grade untuk suku cadang boiler pada pabrik kelapa sawit (2018).