Strategi Menarik Investasi Belum Optimal

35

JAKARTA-Strategi yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam menarik investasi asing ternyata masih belum optimal dibanding dengan upaya  yang dilakukan pemerintah Malaysia. Padahal dari sisi pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia dan alam, Indonesia memiliki nilai plus dibanding Negeri Jiran. “Hubungan Uni Eropa dengan Indonesia sudah terjalin dengan baik selama bertahun-tahun. Kerjasama global ini dilakukan, baik dari bidang politik ekonomi dan bidang-bidang lainnya. Kami melihat, hubungan ini masih bisa tingkatkan lagi untuk saling melengkapi kebutuhan di bidang ekonomi,” kata  Duta Besar Uni Eropa (UE) untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, Julian Wilson dalam seminar bertajuk EU-Indonesia Trade Support Programme (TSP) II di Hotel Le Meridien Jakarta, Selasa (9/4).

Berdasarkan kajian yang masuk ke UE, kata Julian, investasi negara-negara yang tergabung ke dalam UE telah memiliki dampak besar bagi penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Dia mengatakan, tidak kurang dari satu juta penduduk bekerja pada perusahaan milik negara-negara UE yang ada di Indonesia. “UE menamkan investasi mencapai 130 miliar dollar AS di Indonesia,” ucap dia.

Namun demikian, jelas dia, strategi menarik dana asing dari luar yang dilakukan pemerintah Indonesia masih lemah, jika dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura.

Menurut Julian, pada 2011 Indonesia berada di peringkat ke-29 mitra UE dan investasi dari Eropa yang mengalir ke Asia lebih banyak mengarah ke India, Jepang, Singapura dan Hong Kong. “Sejak 2004-2010, investasi UE yang masuk ke indonesia hanya 2 persen,” ucapnya.

Perdagangan antara UE dan Indonesia,  jelas dia, hanya sebesar 15 persen dari total perdagangan UE dan ASEAN, sedangkan UE-Malaysia sebesar 20 persen, Singapura mencapai 28 persen, bahkan nilai perdagangan Indonesia dengan UE masih lebih rendah dari Thailand yang sebesar 18 persen.

Berdasarkan data tersebut, Julian berharap pemerintah Indonesia  lebih meningkatkan kerjasama perdagangan dengan UE. Hal ini, lanjut dia, sesuai dengan komitmen perjanjian kerjasama ekonomi dengan Presiden European Council, Herman Van Rompuy dan Presiden Komisi Eropa, Jose Manuel Barroso di akhir 2011.