13 Bulan, BI Tahan BI Rate di 5,75 Persen

36

JAKARTA-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate pada level 5,75 persen  dalam 13 bulan terakhir.Tingkat BI rate ini dinilai masih sesuai dengan sasaran inflasi pada 2013 dan 2014 sebesar 4,5 persen plus minus satu persen.  

Sejak Februari 2012 lalu,  BI memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga acuan sebesar 25 basis point dari 6,0 persen menjadi 5,75 persen.

Kepala Grup Humas BI, Difi A Johansyah dalam keterangan tertulisnya mengatakan perekonomian Indonesia masih menunjukkan kinerja yang kuat, namun tetap mewaspadai masih tingginya tekanan terhadap keseimbangan eksternal sejalan dengan masih kuatnya impor di tengah pelemahan ekonomi global.

Menurut dia, inflasi IHK pada Januari 2013 meningkat, namun diprakirakan akan tetap terkendali pada kisaran sasarannya. Inflasi IHK Januari mencapai 1,03 persen (mtm) atau 4,57 persen (yoy) akibat tingginya curah hujan yang menimbulkan gangguan distribusi dan produksi. Pasokan yang terganggu mendorong inflasi bahan pangan (volatile food) meningkat cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, inflasi inti masih tetap stabil  di  posisi 4,32, yoy didukung ekspektasi inflasi yang relatif terkendali, terkelolanya permintaan yang masih sesuai dengan kapasitas produksi, serta terjaganya nilai tukar Rupiah. “Terdapat sejumlah faktor risiko yang perlu dicermati yang dapat meningkatkan tekanan inflasi, antara lain faktor cuaca yang dapat mengganggu produksi dan distribusi pangan dan kenaikan beberapa administered prices,” jelas dia di Jakarta, Selasa (12/2).

Dia menambahkan, perekonomian Indonesia tumbuh cukup kuat ditopang permintaan domestik, meskipun sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2012 mencapai 6,11 persen, sementara untuk keseluruhan tahun 2012 mencapai 6,23 persen. Konsumsi dan investasi pada triwulan IV-2012 masih tumbuh cukup kuat, meskipun sedikit termoderasi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Di sisi lain, jelas dia, ekspor mulai membaik seiring dengan membaiknya perekonomian di beberapa negara mitra dagang utama seperti China. Namun, pertumbuhan impor masih cukup tinggi seiring dengan kuatnya permintaan domestik. Pada triwulan I-2013, pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 6,2 persen, terutama ditopang permintaan domestik. “Untuk keseluruhan tahun 2013, setelah memperhitungkan aktivitas ekonomi pada triwulan III dan IV-2013 termasuk pengeluaran untuk persiapan Pemilihan Umum (Pemilu) maka pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan mencapai kisaran 6,3 persen-6,8 persen,” imbuh dia.

Sementara itu, dari sisi eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV-2012 membaik tercermin dari meningkatnya surplus meskipun defisit transaksi berjalan lebih tinggi dari prakiraan semula. Perbaikan NPI tersebut terutama disebabkan oleh kinerja transaksi modal dan finansial yang didukung oleh likuiditas pasar keuangan global. Sementara itu, meningkatnya defisit transaksi berjalan terjadi terutama akibat menurunnya surplus neraca perdagangan non-migas dan meningkatnya defisit neraca perdagangan migas. Ke depan, transaksi berjalan pada triwulan I-2013 diprakirakan mengalami perbaikan, terutama disebabkan oleh membaiknya kinerja ekspor sejalan dengan pemulihan ekonomi negara-negara mitra dagang utama seperti China dan AS. Cadangan devisa sampai dengan akhir Januari 2013 mencapai 108,78 miliar dolar AS atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, di atas standar kecukupan internasional.
Lebih lanjut dia  mengatakan kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8 persen dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5 persen.
Sementara itu, pertumbuhan kredit hingga akhir Desember 2012 mencapai 23,1 persen (yoy), meningkat dari 22,3 persen (yoy) pada bulan sebelumnya.
Demikian juga dengan kredit modal kerja tumbuh cukup tinggi sebesar 23,2 persen (yoy) dan kredit investasi tumbuh stabil pada level yang tinggi sebesar 27,4 persen (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. “Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh sebesar 20,0 persen (yoy),” pungkas dia