21 Rahasia Kehidupan Puro Pakualam Terkuak

42
GKBRAy Paku Alam

YOGYAKARTA-Duapuluh satu rahasia kehidupan Puro Pakualaman terkuak. Yang membuka tabir rahasia adalah GKBRAy Paku Alam dalam pertemuannya dengan  Panitia “ Langenastran – Batik & Bathok Night (BBN)” KRT Radya Wisraya Sumartoyo dan AM Putut Prabantoro, di Puro Pakualaman, Sabtu (24/9).

Sebagian rahasia kehidupan itu akan dibeberkan untuk umum dalam “Batik & Bathok Night” yang diselenggarakan oleh warga Langenastran pada Sabtu, 15 Oktober 2016.

Oleh warga dan sesepuh masyarakat, Langenastran dideklarasikan sebagai Kampung Wisata Budaya pada 3 September  2016 bersamaan dengan diresmikan Omah Media (Media Corner) AVOCADO yang terletak di jalan Langenastran Lor, Yogyakarta.

Menurut GKBRAy Paku Alam, Puro Pakualam memiliki 21 rahasia kehidupan yang termuat dalam ajaran Sestradi. Ajaran tersebut memuat kaidah hidup sebagai pemimpin dan hidup dalam masyarakat yang senantiasa harus dihormati oleh para kerabat dan juga manusia. “Ajaran Sestradi itu berasal dari mendiang eyang Paku Alam Pertama yang berisi tentang keseimbangan perilaku 21 sifat manusia yang baik dan buruk. 21 sifat yang baik harus dilaksanakan dan 21 sifat yang buruk harus dihindari. Keseimbangan hidup dan perilaku baru tercapai jika, ke 21 masing-masing sifat dilaksanakan dan senantiasa diingat dalam perjalanan hidup seorang manusia, “ ungkap GKBRAy Paku Alam.

Ke-21 sifat baik itu adalah, Ngadeg, Sabar, Sokur, Narimo, Suro, Manteb, Temen, Suci, Enget, Srana, Ikhtiar, Prawira, Dibya, Suarjana, Bener, , Guno, Kuat, Nalar, Gemi, Yitno dan Taberi. Sementara 21 sifat buruk yang harus dihindari adalah, Ladak, Lancang, Lantab, Lolos, Lepas kendali, Lantang, Langar, Lengus , Leson , Lemer, Lamur, Lusuh, Lukar,  Langsar, Luwas, Lumuh, , Lumpur, Larat, Ngelajok , Lenggak dan Lenggul.

Karena merupakan ajaran luhur yang harus dipelihara, ajaran Sestradi yang  tertulis dalam naskah-naskah kuno  milik Puro Pakualaman, oleh GKBRAy Paku Alam kemudian dituangkan dan diujudkan dalam bentuk batik.

Motif-motif batik yang saat ini dibuat oleh the first lady Puro Pakualaman itu hampir seluruhnya berasal dari motif-motif yang tertulis dalam naskah-naskah kuno. “Saya baru secara serius belajar batik pada tahun 2011. Namun belajar batik bagi saya tidak hanya sekedar bisa membatik tetapi sebagai realisasi mengemban amanah para leluhur dengan tujuan mevisualisasikan ilustrasi yang ada dalam naskah kuno menjadi batik dengan pengerjaan sekitar 3 – 6 bulan per kain. Detail dan kerumitan itulah yang menyebabkan mengapa satu motif kain batin harus dikerjakan demikian lama. Paling rendah harga sebuah batik Puro Pakualam yang biasa berharga Rp 25 juta,” ujar GKBRAy Paku Alam.

Penerima award dari Yayasan Batik Indonesia pada 2013 ini menambahkan, motif asli batik Yogyakarta ada empat yakni ceplok, titik, parang dan semenan.

Dari masing-masing motif utama itu kemudian dibuat berbagai diversifikasi (turunan) yang kemudian banyak dikenal dalam tradisi busana batik Yogyakarta. “Ajaran kepemimpinan Asthabrata yang terdapat dalam naskah kuno di Puro, juga dituangkan dalam motif batik. Jadi, apa yang saya lakukan merupakan pemeliharaan warisan luhur naskah-naskah kuno yang ada di Pakualaman, melestarikan dan memelihara budaya serta menyosialisasikan filosofi ajaran leluhur dengan media batik,” ujar GKBRAy Pakualam, yang akan menjadi nara sumber pada Yogyakarta Batik Binalle pada Oktober ini.