58 tahun ISKA: Pastikan, Nasionalisme Itu Hanya Satu !

58 tahun ISKA: Pastikan, Nasionalisme Itu Hanya Satu !

0
BERBAGI
Ketua Umum Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana/dok Benny Sabdo

JAKARTA-Nasionalisme bagi bangsa Indonesia hendaknya dipastikan hanya satu yakni mengakui secara sadar tanpa syarat dengan nilai, ideologi dan semangat bahwa Indonesia adalah satu-satunya bangsa di Indonesia yang  bertanah air dan berbahasa Indonesia. Dalam nasionalisme yang satu tersebut tidak terbuka bagi budaya, cara pikir,  ideologi lain yang menguasai bangsa ini sekalipun dalam nasionalisme Indonesia tumbuh dan terbangun dalam kebhinnekaan (pluralisme).

Demikian ditegaskan oleh Ketua Umum Presidium Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Muliawan Margadana melalui media rilisnya menyambut Dies Natalis ISKA ke-58, Kamis (26/5).

Pernyataan Muliawan Margadana itu dilatarbelakangi oleh beberapa temuan mengejutkan hasil dari penelitian. Penelitian Setara Institute tahun 2010, dengan 1.200 responden berusia lebih dari 17 tahun di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi dimana  8,5 persen responden mendukung gerakan  keagamaan radikal.  Sementara itu, 60,9 persen responden tidak dapat menerima kehadiran paham keagamaan baru di luar mazhab dan aliran mainstream, serta setuju jika paham keagamaan baru ini tidak diberi ruang untuk berkembang.

Sementara itu Data OECD Social Indicators menyajikan  Index Toleransi di Indonesia pada medio 2011 angka yang sangat rendah (30) diantara negara-negara lain di dunia. Angka ini berada dibawah India (31), dan merupakan negara terendah kedua (bottom two) setelah Estonia (26). Sebaliknya Canada dan Australia menjadi negara dengan tingkat toleransi tertingggi (84). Meski dernikian, perubahan toleransi terhadap kaum minoritas di Indonesia sejak 2007 hingga 2011 menunjukkan tren membaik dibandingkan negara lain, yaitu sekitar 6, jauh diatas India yang justru mengalami tren negatif -11.

Penelitian Potensi Radikalisme di Kalangan Mahasiswa Perguruan Tinggi Agama yang dilakukan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan pada Tahun 2012, menunjukkan bahwa potensi radikalisme yang berbasis pada pemahaman ideologis yang cenderung kaku dan hitam-putih terjadi di semua aqama, baik di lingkungan mahasiswa  Muslim, Katolik, Kristen, Hindu maupun Budha. “Nasionalisme Indonesia adalah sebuah idiologi, nilai serta semangat yang hanya mengakui bahwa Indonesia merupakan satu-satunya bangsa yang bertanah air di dan berbahasa Indonesia yang hidup serta bertumbuh dalam kebhinnekaan atau pluralisme atas suku, agama dan budaya,” ujar Muliawan.

Sebagai konsekuensinya, Muliawan menjelaskan lebih lanjut, adalah, dalam nasionalisme yang satu itu harus muncul dan tumbuh solidaritas tanpa sekat yang menyingkirkan paham dan pengertian sempit terkait dengan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Solidaritas selalu mengacu pada rasa kebersamaan, kesatuan kepentingan dan cita-cita bersama, empati (berbela rasa) yang senantiasa diletakan pada nilai-nilai luhur yang oleh para pendiri bangsa dibangun sebagai fondasi negara. “Hanya saja, sejak reformasi 1998 dan bahkan tahun-tahun belakangan, solidaritas tanpa sekat itu tidak muncul. Selalu yang difoto di media adalah solidaritas dengan sekat yang hanya dimiliki oleh kelompok, suku, agama, partai dll. Solidaritas dengan sekat, sekalipun dikatakan sebagai bentuk nasionalisme, tetap saja tidak  mewakili perasaan seluruh bangsa. Selalu ada kekuatan mayoritas vs minoritas yang muncul dalam solidaritas dengan sekat. Nasionalisme yang satu hanya mengenal solidaritas tanpa sekat,” tegasnya.

Dalam penjelaskan lebih lanjut, Muliawan mengingatkan, nasionalisme itu tetap harus berbasis pada nilai-nilai luhur yang telah ditelakan sebagai fondasi bangsa dan negara oleh para pendiri negara. Dalam bertindak, lanjutnya, semua bisa mengklaim atas nama nasionalisme, tetapi bisa dipertanyakan nasionalisme yang mana jika tindakan atau gerakan yang dilakukan hanya untuk kepentingan kelompok. “Nasionalisme Indonesia yang satu itu harus sampai pada sila kelima yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Artinya adalah, nasionalisme yang satu itu harus memberikan dan menghasilkan kesejahteraan bagi bangsa dan bukan suku, agama, kelompok atau orang-orang partai saja. Singkatnya nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme yang menyejahterakan bangsa dan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Ia juga menguraikan lebih lanjut, konflik horizontal dengan latar belakang apapun membuktikan bahwa nasionalisme Indonesia sebagai bentuk keterikatan sebagai bangsa , masih rendah. Agama yang seharusnya menyejahterakan umatnya malah senantiasa dan sering dijadikan alasan munculnya konflik. Setiap warganegara dan rakyat apapun agama dan sukunya mempunyai hak untuk sejahtera di tanah air Indonesia.

Oleh karenanya ISKA mengajak seluruh komponen bangsa untuk mewujudkan gerakan bela negara dan bela rasa guna terus mewujudkan Solidaritas Tanpa Sekat dan memupuk Nasionalisme yang menyejahterahkan.