Abar Ingatkan Jangan Bawa Golkar Seperti Orba

45

JAKARTA-Pengurus DPP Partai Golkar hasil Munaslub di Bali harus meningkatkan rasa percaya diri atau confidence meski mendukung pemerintahan Jokowi-JK. Karena itu Golkar harus bisa menunjukkan paradigma baru. “Golkar semestinya bisa menunjukkan kemandirian dan tidak lagi menjadi alat atau perangkat untuk melegitimasi apapun keinginan penguasa dan kembali dikooptasi pemerintah. Sebagai parpol Golkar harus bisa mandiri,” kata mantan Ketua umum Partai Golkar Akbar Tandjung di Jakarta, Selasa (24/5/2016).

Oleh karena itu, kata Akbar, sebaiknya Golkar melaksanakan program kerja yang sejalan dengan keinginan rakyat. ”Jika memang program-program pemerintahan Jokowi pro rakyat, maka Partai Golkar tentu harus mendukungnya. Jadi tidak asal mengiyakan semua keinginan pemerintah saja,” jelasnya.

Menurut Akbar, Golkar juga harus mampu melaksanakan fungsi check and balance walaupun pada hakikatnya Golkar mendukung pemerintah. Hal ini justru akan meningkatkan kualitas demokrasi.

Menyinggung soal dukungan terhadap Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta, Akbar menegaskan hal seperti ini harus dibicarakan dalam rapat. Setelah dicapai kata sepakat kemudian diputuskan dalam forum rapimnas. “Itu baru aturan organisasi yang baik. Begitu juga soal dukungan pada Ahok dalam pilkada DKI, seharusnya dibicarakan dulu dengan DPD I Golkar DKI,” tegasnya.

Akbar merasa perlu mengingatkan Setya Novanto, mesti pernyataan Setya Novanto terkait Ahok baru sebatas pernyataan pribadi dan belum resmi partai.
“Harusnya secara internal semua dukungan ini dibicarakan dulu secara internal secara rasional dan objektif. Semua didengar, diolah dan dibahas terlebih dahulu,” tambahnya.

Dia pun mengingatkan Setya Novanto untuk fokus dalam menghadapi pilkada serentak mendatang karena masalah pilpres masih panjang dan lama. “Menurut saya pilpres masih panjang,Golkar harus fkus dulu pada pilkada serentak. Ini sekaligus untuk membuktikan ke publik bahwa dengan Munaslub kemarin Golkar memang betul-betul makin solid yang bisa dilihat dari kemenangan pada pilkada serentak. Dengan demikian maka hasil dari perubahan akan terlihat dan bahwa Golkar bekerja dengan merekrut calon-calon kepala daerah yang terbaik,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Politisi PDI Perjuangan Effendi Simbolon mengungkapkan terpilihanya Setya Novanto sebagai Ketum Golkar tidak boleh dianggap remeh. Apalagi menuding Setya Novanto akan membawa Golkar seperti era orde baru yang patuh pada penguasa. “Jangan under estimate terhadap Novanto. Dia sekarang sebagai orang nomer satu di Partai Golkar. Itu realitas bahwa dia mencapai puncak karier sebagai politisi Golkar. Dia menang tidak secara aklamasi namun berjuang dan menang,” jelasnya.

Soal isu bahwa Setya Novanto akan memberikan dukungan pada Jokowi pada pemilu 2019 mendatang dan akan membuat posisi PDIP akan terlewati, Effendy menanggapi secara santai, bahwa dukungan Golkar pada Jokowi adalah sebuah dinamika politik yang biasa saja. “Semua jangan geer (red: gede rasa) dulu lah yakin Novanto akan mendukung Jokowi pada 2019. Novanto tuh tipikal politisi yang sejuk dan tidak konfrontatif, dia melaju saja. Salah-salah nantinya malah Novanto yang jadi capres kuat,” tegasnya.

Soal dukugan pada Jokowi, dia pun menilai hal itu sebagai hal yang biasa karena tentunya jika memang Jokowi memiliki program yang baik maka tentunya semua pihak akan mendukungnya. Golkar tentunya tidak akan mendukung pemerintah membabi buta.
“Sepanjang itu baik dan bener tentunya akan didukung.Tapi kalau semua palus, tentunya dukungan hanya sesaat. Itu hukum yg sangat relevan,” imbuhnya. ***aec