Akibat Intervensi, Golkar Dikhawatirkan Tetap Konflik

57

JAKARTA-Kemenangan Setya Novanto dalam Munaslub Partai Golkar lebih disebabkabkan kuatnya intervensi pemerintah. Tentu saja langkah pemerintah ini dinilai negatif oleh publik, karena terkesan mengacak-acak demokrasi yang sudah dibangun pasca reformasi 1998 lalu.

“Campur tangan untuk ikut mengatur siapa yang harus menjadi ketum parpol begitu mencolok betul. Ditambah lagi aroma persaingan penguasa antara Jokowi yang mendukung Setya Novanto dan  JK yang mendukung Ade Komarudin sangat terasa,” kata Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Parahyangan, Asep Warlan Yusuf ketika dihubungi, Minggu (22/5/2016).

Menurut Asep, pemerintah seharusnya menjadi pembina partai politik dan memelihara kehidupan demokrasi  yang sehat. Oleh karena itu cara-cara pemerintah jelas tidak sehat dan mengembalikan demokrasi zaman dahulu.”Kehadiran Luhut Panjaitan sepanjang Munaslub  Partai Golkar jelas-jelas mempertontonkan kehadiran pemerintah,” tambahnya.

Praktek ini persis zaman orde baru. Namun sayangnya Partai Golkar justru tidak merasa “diobok-obok”. ”Berbeda dengan Megawati yang kemudian protes dengan mendirikan PDIP Perjuangan. Karena Soeharto mendukung Soerjadi menjadi Ketua umum PDI. Ditambah lagi dengan sikal yang selalu menyusu dan patuh pada penguasa,” terangnya.

Dukungan Jokowi kepada Setya Novanto, menurut Asep, hanya  melihat hitung-hitungan secara politik. Karena Jokowi bisa ikut diamankan oleh Partai Golkar 0dan sekaligus mengamankan posisinya untuk pemilu 2019 mendatang.

“Dukungan Setya Novanto pada  Jokowi tentunya tidak gratis. Karena Setya minta jaminan keamanan terutama kasus-kasus hukum yang menjeratnya,” ucapnya

Jadi dengan kata lain, kata Asep, dukungan pemerintah ke Setya Novanto dan dukungan Setya Novanto ke Jokowi adalah hubungan yang simbiosis mutualisme dan saling menguntungkan

Dukung mendukung dalam bentuk koalisi, aliansi atau kerjasama politik menurutnya adalah hal yang biasa. Namun dalam kasus Golkar menjadi tidak biasa karena bentuk saling mendukung itu menjadi tidak beradab. ”Demokrasi pun menjadi sekedar jargon saja  karena pada dasarnya kita kembali ke era seperti Orde Baru. Belum juga Setya Novanto membentuk kepengurusan, dia langsung menegaskan dukungannya pada Jokowi juga pada Ahok.Ini kan kelihatan betul, belum apa-apa Partai Golkar sudah didagangkan,” katanya lagi.

Dia pun yakin kalau kondisi ini akan membawa Partai  Golkar ke ranah kehancuran dan perselisihan diantara para elit Partai Golkar akan terus berlanjut.”Ya kalau seperti ini cara memilihnya maka tidak mungkin ada rekonsiliasi. Pihak yang kalah tidak mungkin bisa menerima kekalahannya dan pihak yang menang tidak mungkin mengakomodir pihak yang  kalah,” paparnya.

Partai Golkar yang selama ini selalu mengusung kader-kader berpengalaman dan cerdas serta memiliki program-program yang kuat dan merakyat menurutnya akan ditingkalkan pemilihnya.”Saya rasa para pemilih akan meninggalkan Partai Golkar karena cara-cara pemilihan yang tidak demokratis dan juga ketua umum terpilih bukanlah yang sebenar-benarnya diinginkan kader-kader Partai Golkar yang menganut suara rakyat adalah suara Tuhan,” tandasnya. ***