Aksi Demo Bikin Pengusaha Ritel Rugi Sekitar Rp1,5 triliun

19

JAKARTA-Dampak aksi demonstrasi Mei 2019 menyebabkan sejumlah pusat perbelanjaan atau mall di kawasan Jakarta menutup kegiatan operasionalnya. Tentu saja tutupnya mall menyebabkan kerugian yang tidak sedikit, bahkan diprediksi mencapai Rp1,5 triliun dalam satu hari.

“Jadi ini belum termasuk tenan-tenan kecil ukuran 20 meter persegi,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy N. Mandey di Jakarta, Kamis, (23/5/2019).

Lebih jauh Roy menjelaskan setidaknya untuk satu toko ritel modern dengan kelas seperti hypermart, supermarket dan departement store meraup omzet sekitar Rp15 miliar sampai Rp20 miliar per hari dengan jam operasional normal pukul 10.00 sampai 22.00 WIB.

“Satu toko ritel modern saja omzet rata-ratanya Rp15 miliar sampai Rp20 miliar per hari. Kalau diambil rata-rata ada 76 mall di Jakarta, berarti perkiraan kehilangan omzet mencapai Rp1,5 triliun jika tutup seharian,” tambahnya.

Roy mengatakan dampak langsung dari aksi massa 22 Mei ini adalah kehilangan transaksi dari konsumen karena tutupnya pusat perbelanjaan. Padahal, konsumsi masyarakat di toko ritel modern cukup tinggi pada bulan Ramadhan dibandingkan hari biasanya.

Kerugian omzet ini tidak hanya terjadi pada ritel modern, tetapi juga Pasar Tanah Abang yang ditaksir merugi lebih dari Rp100 miliar per hari. Belum lagi ritel waralaba seperti Alfamart dan Indomaret di kawasan aksi massa yang mengalami penurunan pengunjung.

“Ritel-ritel kecil, seperti Indomaret dan Alfamart memang tidak di dalam mall, tetapi juga terganggu karena masyarakat takut keluar rumah, sehingga berdampak pada penurunan pengunjung,” katanya.

Ia menambahkan bahwa penutupan sejumlah pusat perbelanjaan juga mengganggu jalur distribusi logistik karena adanya penutupan jalan dan pergerakan massa menuju dan sekitar kawasan Jalan Thamrin.

Dengan demikian, sektor hulu seperti produsen dan pabrik juga tidak bisa mengeluarkan barang dan berpotensi mengurangi produksi mereka sementara.

Aprindo berharap lumpuhnya aktivitas perekonomian akibat aksi massa ini tidak berlangsung lama dan segera kondusif agar pusat perbelanjaan dan toko-toko ritel dapat membuka kembali kegiatan operasionalnya.

“Semua toko ritel modern dan perbelanjaan intinya akan terus berupaya hadir membuka toko untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun sesuai protap masing-masing, kegiatan bisnis pusat belanja dan ritel disesuaikan dengan kondisi yang berkembang. Asosiasi tidak mengatur itu,” kata Roy.