Aktivis 98 Tolak Amien Rais Jadi Bapak Reformasi

5553
Aktivis 98 Wahab Talaohu

JAKARTA-Aktivis 98 menolak rencana pemberian gelar Bapak Reformasi kepada Amien Rais oleh BEM UI, BEM SI, BEM NUS. Amien Rais dinilai tidak pantas menerima gelar itu karena tidak terjun langsung saat peristiwa Mei 1998.

“Adik-adik ini harus banyak belajar dan cari tau dulu seperti sejarah pergerakan 98, jangan dapat info yang tidak benar . Selama ini masyarakat tahunya pergerakan 1998 itu dimotori oleh Amien Rais. Itu hal yang keliru,” kata aktivis 98 Wahab Talaohu kepada wartawan Rabu (18/4).

Menurutnya, pergerakan Mei 98 murni gerakan mahasiswa yang ingin menurunkan presiden Soeharto saat itu yang sudah 32 tahun berkuasa.

“Jadi siapa Amien Rais. Dia tidak terlibat dilapangan dalam aksi itu. Jadi kami menolak jika Amien Rais akan diberikan sebagai bapak reformasi,” ujar Wahab yang juga pendiri Forkot dan Famred ini .

Dia mengaku memang sudah mendengar adanya upaya sejumlah kelompok yang akan memberikan penghargaan kepada Amien Rais tapi memanfaatkan adik adik mahasiswa yang buta akan sejarah 98.

“Namun kami menghimbau kepada pihak-pihak yang akan memberikan gelar agar mengurungkan niatnya,” ujar Wahab tegas.

Wabab memberi sejumlah alasan menolak Amien Rais sebagai bapak Reformasi karena :

1. Amien tidak terlibat secara total dalam gerakan reformasi 1998, karena Amien hanya terlibat dalam gerakan pemakljulan Suharto.

2. Amien Rais kami tolak sebagai bapak Reformasi karena mendukung Habibie pasca jatuhnya Suharto. Padahal gerakan reformasi artinya gerakan menolak rezim orde baru (Suharto – Habibie) sebagai paket dari sebuah sistim yang sangat korup, sistim yang menindas yang harus ditolak.

3. Saat gerakan reformasi diperjuangkan kami dihadapkan dengan Pam Swakarsa (sipil yg dipersenjatai) Amien tidak membela kami justru diam ketika terjadi kekerasan terhadap mahasiswa pada saat itu.

4. Amien waktu menjabat sebagai ketua MPR beliau juga menolak tragedi kemanusiaan seperti trisakti Semanggi I dan 2 sebagai kejahatan HAM berat maka beliau tidak pantas diberi gelar tokoh Reformasi.

Padahal tragedi kemanusiaan itulah yang melahirkan reformasi.

“Intinya Amien tidak pernah berdarah darah bahkan kami tolak saat pendudukan DPR/ MPR pada bulan Mei,” jelasnya.