Anas-Ibas Pecah Kongsi

55

JAKARTA-Soliditas Partai Demokrat (PD) mulai terancam. Kemesraan yang selama ini terjalin antara Ketua Umum  PD, Anas Urbaningrum dengan Sekjen,  Eddie Baskoro Yudhoyono (Ibas) kini tidak tampak lagi. Kedua elit partai berlambang mercy ini kini tengah pecah kongsi. Rumor menyebutkan, hubungannya keduanya sudah tidak harmonis lagi. Bahkan, di beberapa acara penting partai, keduanya cenderung memisahkan diri, termasuk Ketua Dewan Pembina PD, Susilo Bambang Yudhoyono akan menggelar pertemuan dengan sejumlah petinggi partai lainnya, di Cikeas, Bogor. Anas justru  tampak santai meski malam ini melayani wawancara dengan televisi.  Dengan mengenakan baju batik, Anas bersarung warna coklat, selaras dengan bajunya. Anas tampak rileks.
Menurut sumber www.beritamoneter.com, pihak Cikeas memang sudah tidak menginginkan Anas lagi menjadi Ketua Umum.  Karena itu, Anas tidak termasuk dalam daftar yang diundang SBY ke Cikeas. Padahal, pertemuannya sangat penting karena membahas penyelamatan partai. “Memang, kalau Anas hadir, Ibas tidak. Demikian juga sebaliknya, kalau Ibas hadir, Anas pasti tidak tampak,” ujar dia.

Ketidakakuran kedua elit Demokrat ini bermula dari jebloknya hasil survey.   Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)  menyebutkan Partai Demokrat yang merajai Pemilu 2009 mengalami jatuh bebas. Suara responden hanya 8,3 persen yang mendukung partai itu. Anas dituding sebagai biang kerok dari turunya rating Demokrat ini.

Buntutnya, beberapa orang di Majelis Tinggi PD mengusung wacana Kongres Luar Biasa (KLB) untuk menyelamatkan demokrat. Bahkan, untuk memegang kendali partai, Ibaslah yang ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt), Ketua Umum. Wacana penunjukkan Ibas  ini makin memperuncing keadaan. “Kelihatannya memang SBY sebagai Ketua Dewan Pembina  sudah tak sabar lagi,” kata pengamat politik Prof Tjipta Lesmana ditemui sela-sela diskusi “Bola Politik dan Politik Bola di Jakarta, (7/2).

Namun demikian, Guru Besar Komunikasi Politik Universitas Pelita Harapan (UPH) ini tidak tepat menunjuk Ibas sebagai Plt PD. Alasannya, penunjukan Ibas tidak menyelesaikan masalah internal partai yang saat ini sedang dirundung stigma negative. “Tidak tepat tunjuk Ibas, malah itu tidak menyelesaikan masalah guna menghadapi Pemilu 2014,”   ujar dia

Banyak tokoh selain Ibas yang layak memimpin PD, misalnya tokoh senior seperti Sjarifuddin Hasan, Marzuki Alie dan lainnya. “Mereka cukup piawai dan memiliki leadhership yang bagus. Kalau Jero Wacik, kurang tepat,” tegasnya.

PD itu, sambung Tjipta, semuanya tergantung dari Presiden SBY. “Artinya, kalau dia galang melakukan KLB, ya tidak sulit. Tinggal meminta 2/3 DPD ke Majelis Tinggi, pasti didukung,”  urai dia.

Hanya yang perlu diketahui SBY, ujar Alumnus Komunikasi Politik UI ini, pendukung Anas ditingkat graasrrot sangat kuat. Dan ini harus diperhitungkan SBY. Kalau memang ingin menyelematkan PD.

Pengamat politik Iberamsjah menilai, Anas dan Ibas memang sudah tidak sejalan. Rengangnya hubungan keduanya mengindikasikan terjadinya pecah kongsi.”Partai Demokrat tampaknya memang sedang goyah. Nasib Anas hanya menunggu keputusan dari Dewan Pembina saja, dalam waktu dekat ini,” kata Iberamsjah saat dihubungi Koran Madura di Jakarta, Kamis (7/2).

Iberamsjah menegaskan, perpecahan di tubuh Partai Demokrat dapat dikatakan sudah tidak terelakan, mengingat ketegangan di internal partai kian menghangat. “Memang kita tidak bisa mengatakan perpecahan di Partai Demokrat ini secara sepihak. Tetapi, soal eksistensi posisi Anas di partai, tetap bergantung pada SBY,” ucap dia.

Lebih lanjut dia menegaskan, tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat ini Partai Demokrat bakal menggelar Kongres Luar Biasa untuk menggantikan ketua umum. “Mekanisme Kongres Luar Bisa bisa saja dilakukan dalam waktu dekat,” tegas Iberamsjah