Anggaran Pemberantasan Terorisme Harus Dilaporkan

47
beritasulsel.com

JAKARTA-Pemberantasan terorisme di Indonesia diminta tidak berjalan secara serampangan alias tidak terkoordinir. Karena selain tidak efektif juga akan menimbulkan pemborosan anggaran negara. “Jangan sendiri-sendiri menangani terorisme, baik BNPT, BIN dan Densus 88. Anggaran yang terpakai justru tidak efisien,” kata anggota Komisi III DPR RI, Jazilul Fawaid dalam diskusi “RUU Terorisme” di Jakarta, Rabu (17/2/2016).

Selain itu, kata Wakil Ketua Banggar DPR, sumbangan dana yang berasal dari luar negeri, baik itu LSM maupun lembaga negara asing untuk pemberantasan terorisme harus jelas kedudukannya. “Entah itu dari negara sahabat maupun lembaga tidak resmi dari luar negeri. Ini harus dilaporlkan,” paparnya.

Menurut Jazil, dana pemberantasan terorisme yang berasal dari APBN sudah jelas, peruntukannya dan bagaimana auditnya. “BPK bisa mengaudit sumber dana dari APBN. Nah, kalau sumbangan dari luar tetap harus dilaporkan kepada publik,” tegasnya.

Selain itu, lanjut Jazilul, dirinya berpendapat bahwa pengawasan harus lebih ketat dilakukan pemerintah pada pemukiman-pemukiman masyarakat. Sebab, selama ini pemukiman masyarakat cenderung luput dari perhatian dalam upaya pemberantasan terorisme itu sendiri. “Pembinaannya terutama harus dilakukan di RT RW yang diperkirakan sebagai daerah yang rawan. Karena mereka bersembunyinya di rumah-rumah kos,” lanjut Jazilul.

Selain itu, Jazilul juga mengatakan bahwa paham generasi muda harus dipastikan tidak terpengaruh sedikitpun dengan ajakan-ajakan melakukan aksi teror. Caranya, menurut Jazilul, bisa dilakukan melalui materi pendidikan di sekolah-sekolah. “Juga penting dalam penanggulangannya adalah dengan melalui kurikulum pendidikan,” ujar Jazilul.

Dalam kesempatan itu Jazilul juga mengatakan bahwa pemahaman terhadap Pancasila harus lebih ditingkatkan kedepannya. Jazilul yakin paham yang ada di Pancasila itu akan mampu menangkal gerakan teroris di republik tercinta ini. “Perlu dipertimbangkan untuk mengembalikan azas tunggal Pancasila. Ini penting, sebab teror itu datang dari luar. Indonesia tidak punya budaya bunuh diri seperti yang dilakukan oleh teroris,” imbuhnya. **aec