Antisipasi Kelangkaan Darah, DPP PAN-Gelar Donor Darah

103
Ketum PUAN Evie Nasrullah bersama Ketua Bid. Kesehatan DPP PAN Intan Fauzi Fitriyadi

JAKARTA-Tingkat kebutuhan darah menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini diperkirakan masih tetap tinggi menyusul potensi wabah demam berdarah (DB) yang terus menyerang masyarakat dibeberapa daerah.

Untuk mengatasi kelangkaan pasokan darah, Bidang Kesehatan & Kesejahteraan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Amanat Nasional (PAN) Dan DPP Perempuan Amanat Nasional (PUAN) bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia mengadakan Donor Darah di kantor DPP PAN-Jl.Senopati No. 113 Jakarta, Minggu (16/4).

Acara yang digelar mulai pagi hari ini juga dihadiri oleh Pengurus DPP PAN, para pengurus Ortom PAN yaitu DPP PUAN, BM PAN, DPW PUAN DKI, Pengurus Perempuan Muslimah.

Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan menjelaskan “acara donor darah DPP PAN ini bertujuan berbagi kepada sesama dan bermanfaat bagi kesehatan diri. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata antisipasi terhadap potensi wabah demam berdarah (DBD) yang masih melanda sejumlah wilayah di tanah air”.

Penyakit DBD memang bagian dari siklus musim pancaroba yang rutin terjadi setiap tahun. Sehingga pemerintah semestinya sudah mempunyai skema penanggulangannya.

Karena itu, Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Rakyat DPP PAN berharap instansi pemerintah dan kesehatan wilayah harus reaktif merespon kondisi lingkungannya.  Sinergitas antara  semua instansi mulai dari puskesmas, RSUD, Lurah dan Camat harus terjalin secara sistematis. “Kita berharap kegiatan donor darah ini bermanfaat positif bagi masyarakat luas,” tutur Ketum PAN.

Ketua Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan DPP PAN Intan Fauzi Fitriyadi memperkirakan, permintaan darah menjelang bulan Ramadhan melonjak. Kendati demikian, PMI sendiri sudah siap mensuplay kebutuhan darah bagi masyarakat. “Saya melihat, PMI siap dan secara rutin bergerak mencari darah menjelang puasa,” terangnya.

Lebih lanjut, Intan mengatakan persediaan darah di Indonesia masih jauh di bawah tingkat kebutuhan. Ini artinya, stok darah nasional jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Sesuai standar WHO, jumlah kantong darah yang harus tersedia di suatu negara adalah 2% dari populasi nasional. Artinya, untuk Indonesia, dibutuhkan kantong darah sekitar 4,8 juta dalam setahun.

Namun dari kebutuhan 4,8 juta kantong dalam satu tahun, stok darah nasional baru mencapai 4 juta kantong. “Kebutuhan kita besar sekali, kalau menurut ketentuan WHO, bahkan harus tersedia 2 persen dari jumlah penduduk. Artinya, kalau jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta orang, harus ada persediaan darah 5 juta kantong,” terangnya.

Secara nasional, kebutuhan darah saat ini 4,8 juta kantong dalam satu tahun. Selain masih di bawah tingkat kebutuhan, persediaan darah yang ada di setiap kabupaten atau kota belum merata. Akibatnya, jika suatu daerah membutuhkan persediaan darah maka harus mengambil stok dari daerah lain. “Untuk itu, kesadaran masyarakat untuk menyumbangkan darah perlu terus ditingkatkan,” pungkasnya.