Anugerah Kebudayaan 2017 Kembali Digelar

35
Yusuf Susilo Hartono

JAKARTA-Kebudayaan adalah roh suatu bangsa. Sedangkan media massa adalah mata dan hatinya. Di era otonomi daerah, sesungguhnya ujung tombak kebudayaan nasional ada di tangan bupati (pemerintah kabupaten) dan walikota (pemerintah kota). Mereka yang “memiliki” wilayah, rakyat, aset kebudayaan tangible/intangible (benda/tak benda) lokal, pemimpin formal dan pemimpin adat.

Untuk itulah, anugerah Kebudayaan PWI Pusat kembali digelar. Anugerah ini pertama kali digelar oleh PWI Pusat saat gelaran Hari Pers Nasional (HPN) 2016 di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pada saat HPN 2016, telah dipilih 8 Bupati/Walikota untuk mendapat penghargaan Anugerah Kebudayaan.

Tujuan dari penghargaan ini adalah memilih Bupati/Walikota yang pro kebudayaan, dan sepak terjangnya memberikan inspirasi dan edukasi tentang perlunya membangun kabupaten/kota berbasis kebudayaan.

Para Bupati/Walikota yang akan menerima Anugerah Kebudayaan 2017 akan dipilih oleh sebuah tim yang terdiri dari banyak unsur.

Penanggung Jawab Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017, Yusuf Susilo Hartono mengatakan, ada 4 unsur tim penilai Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017, yakni masing-masing adalah perwakilan dari Pengurus PWI Pusat berjumlah dua orang, dari unsure budayawan atau pengamat kebudayaan, perwakilan dari pejabat Pariwisata Bidang Bahari dan pengelola media pariwisata.
“Tim penilai ini nantinya akan menilai melalui paparan tertulis via e-mail, kemudian dikerucutkan menjadi 10 semi-finalis hingga akhirnya dipilih 3 pemenang,” kata Yusuf di Kantor PWI Pusat, Jakarta, Selasa, (8/11).

Para semi-finalis diundang ke Kantor PWI Pusat untuk melakukan paparan langsung di depan tim juri, untuk kemudian dipilihlah 3 finalis/pemenang. Selanjutnya, tim juri akan ikut terjun ke lapangan dalam bentuk “Pembuktian Lapangan” untuk kemudian menentukan pemenang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017.

Aspek penilaian Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017 akan menitikberatkan pada, tiga aspek, yakni aspek inovasi, aspek pemanfaatan teknologi dan aspek aktualisasi nilai.

Aspek Inovasi merujuk pada kebijakan, program hingga implementasi, yang mengarusutamakan kebudayaan bahari sehingga mampu merevolusi mental masyarakat setempat,

Aspek Pemanfaatan Teknologi yakni berkaitan tentang informasi untuk media komunikasi dan informasi sesama warga dan warga lokal dengan nasional hingga dunia dan Aspek Aktualisasi Nilai adalah tentang penilaian kearifan lokal yang berdaya global.

Adapun Timeline Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017, pengumuman terbuka via media sosial pada tanggal 10 hingga 17 November 2016. Paper para peserta akan sudah berada di tangan juri pada tanggal 17 hingga 25 November 2016.

Juri akan mulai melakukan penilaian untuk dikerucutkan menjadi 10 besar di akhir bulan November, yakni 25 hingga 30 November 2016. “Nantinya, selama dua hari, tanggal 2 hingga 3 Desember, para peserta yang telah dikerucutkan juri akan melakukan pemaparan di Gedung PWI Pusat, Jakarta,” lanjut Yusuf.

Kemudian pada tanggal 9 hingga 11 Desember, para peserta terpilih dan tim juri akan melakukan pembuktian lapangan. Pengumuman pemenang Anugerah Kebudayaan 2017 akan diumumkan pada tanggal 15 Desember 2016.

Bagi pemenang Anugerah Kebudayaan, akan diundang menghadiri acara puncak Hari Pers Nasional di Maluku pada 9 Februari 2017 dan akan didaulat menjadi pembicara dalam diskusi kebudayaan kegiatan puncak HPN 2017.

“Untuk informasi lebih lanjut terkait Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2017, silahkan kontak ke nomor 081283127458  dan 08164839915 atau via email ke pwi.pusat@yahoo.com cc silonegoro@gmail.com,”tutup Yusuf.