APEC Nilai Sawit Belum Ramah Lingkungan

34

NUSA DUA-Kesepatan KTT APEC 2013 ternyata tak meloloskan produk kelapa sawit (CPO) sebagai produk ramah lingkungan, mengulang KTT APEC tahun sebelumnya. “Menurut kami agak ad hoc dan random di mana masing-masing negara mengungkapkan, kami mau produk ini untuk masuk dalam environmental goods list, dan segalanya,” kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan di Bali, Selasa, (8/10).

Menurut Gita, pemerintah telah mengubah strategi dengan konsep proposal penawaran CPO terbaru. Proposal terbaru ini lebih baik dan lengkap dari strategi sebelumnya termasuk saat di KTT APEC 2012 di Vladivostok dan saat ini.

Pada proposal baru, Indonesia tak hanya mengusung sawit sebagai produk ramah lingkungan, namun juga mencakup bahwa produk sawit juga menopang pertumbuhan yang berkelanjutan, pengentasan kemiskinan dan pembangunan pedesaan. “Ini menurut saya, lebih proses, mekanisme dan juga lebih inklusif dan lebar, daripada pendekatan yang dibuat tahun lalu di Vladivostok,”terangnya

Diakui Gita, proposal baru nanti bisa lebih dipertanggungjawabkan dan juga memiliki dampak yang luas. Selain CPO, produk seperti karet dan kayu pun akan dimasukkan ke dalam satu proposal yang memiliki 3 aspek utama tersebut, beberapa negara telah menyetujui proposal ini. “Dan timeline-nya sama dengan EG list untuk tahun 2015,” tegasnya

Gita menyangkal, produk seperti CPO tidak ramah lingkungan dan berpengaruh terhadap emisi karbon yang selama ini dikhawatirkan oleh negara-negara Eropa. “Kami sudah melakukan studi ilmiah, bahwa sawit bisa dipertanggungjawabkan dari sisi reduksi emisi karbon, dan dari sisi apapun. Ini inklusif cukup besar, bagus di samping prakarsa lainnya yang kita ke depankan,” ungkapnya

Selain itu, untuk menggalang kerjasama antara sesama produsen sawit, Presiden SBY mengadakan pertemuan dengan PM Malaysia Najib Tun Razak. Pertemuan ini salah satunya membahas persoalan minyak sawit. “Tadi pertemuan salah satunya membahas soal CPO,” tuturnya

Gita mengatakan isu CPO memang sangat penting bagi Indonesia dan Malaysia. Untuk itu dibutuhkan persamaan persepsi dan upaya yang lebih keras agar CPO dapat diterima negara-negara di dunia. “Masalah kita sama, yaitu soal CPO. dan kita inginkan mencari cara agar CPO dapat diterima,” jelasnya

Lebih jauh Gita menuturkan saat ini kampanye negatif soal CPO terus dilakukan oleh beberapa pihak. Sehingga menurut Gita butuh cara untuk melawan kampanye tersebut. “Kita dan Malaysia adalah dua produsen CPO terbesar di dunia,” paparnya. **can