Arbi Sanit: Peluang Ahok Menang 1 Putaran Sangat Besar

Arbi Sanit: Peluang Ahok Menang 1 Putaran Sangat Besar

0
BERBAGI
Guru Besar FISIP UI, Arbi Sanit

JAKARTA-Pengamat politik Universitas Indonesia (UI), Arbi Sanit mengatakan peluang Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama untuk memenangkan Pemilihan Gubernur sangat besar meskipun menyandang status tersangka. Bahkan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) UI ini menyakini Ahok bakalan menang satu putaran. “Ahok sendiri bilang dia menang satu putaran. Setelah saya pikir-pikir ya, masuk akal juga karena banyak anak muda yang mendukungnya, terutama generasi muda yang suka main gadget. Dan itulah keuanggulan dia (Ahok-red),” ujar Arbi Sanit di Jakarta, Kamis (17/11).

Menurutnya, status tersangka terhadap Ahok tidak terlalu banyak pengaruhnya. Akok memiliki pendukung fanatic yang sulit bergeser atau berpindah ke paslon lainnya.

Sisi lain, pendukung Ahok itu berasal dari kelompok professional dan rasional dan bukan dari kelompok emosional. “Bukan kelompok suku, agama dan ras. Tetapi yang lepas dari semua itu. Masyarakat yang hidupnya modern, megah dan bergaya, itulah golongan pendukung Ahok,” jelasnya.

Dukungan terbesar bagi putra kelahiran Belitung ini ujar Arbi datang dari kelas menengah dan generasi milinea.

Meski secara finansial mampu, namun Ahok tidak mau melakukan politik uang. Lebih dari itu, Ahok juga bersih dan tidak korup.

Pemimpin bersih dan tidak korup ini menjadi idola generasi muda sekarang ini. “Generasi muda dan menengah ini mendambakan kemajuan Jakarta. Mereka bisa hidupnya enak. Dan semua impian anak muda tentang Jakarta semua terwakili dalam sosok Ahok. Sementara dua pesaing Ahok itu belum punya bukti apa-apa, hanya berjanji sesuatu yang tidak pasti,” tegasnya.

Dia mengatakan, generasi menengah dan milinea ini memiliki kepentingan yang sama dengan Ahok. Mereka sama-sama memimpikan Jakarta sebagai kota berkelas dunia. Karena itu, apapun yang menimpa Ahok tidak terlalu banyak dampaknya. “Ada titik temu antara generasi menengah dan milinea dengan Ahok. Jadi kalau Ahok bilang menang satu putaran, masuk akal karena 50% anak muda itu ada ditangan dia,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, popularitas Ahok sebelum dituding menistakan agama masih diatas 40 persen. Namun setelah Ahok menjadi tersangka, popularitasnya menurun. Akan tetapi, penurunan popularitas ini tidak lantas mengerek naik popularitas pesaingnya. Terbukti, popularitas keduanya masih rendah.

Meski peluang menang sangat besar, Arbi mengingatkan pendukung Ahok untuk mengawal setiap proses yang ada. Sebab, bukan tidak mungkin aka nada settingan lagi yang bertujuan menurunkan (mendowngrade) popularitas Ahok dengan berbagai cara. “Kasus tersangkanya Ahok saya kira hasil permainan polisi dan Habieb Rizieq. Misalnya, dari rencana gelar perkara terbuka menjadi tertutup. Lalu hasilnya diserahkan ke pengadilan,” urainya.

Gonjang-ganjing seperti ini terus menjadi serangan ke Ahok. Namun serangan bertubi-tubi ke Ahok ini hanya dipercaya oleh satu golongan saja. Sementara golongan yang lain masih menaruh harapan yang besar kepada Ahok untuk mempimpin Jakarta ini.

Ketika ditanya, apakah status tersangka Ahok tidak menjadi durian runtuh bagi dua pesaing lainnya, Arbi dengan tegas mengatakan tidak juga. Pasalnya, UU itu tidak ada urusan dengan pencalonan pilkada. Artinya, orang yang menjadi tersangka diperbolehkan meneruskan kampanye termasuk mengikuti pemilihan. “Saya tetap yakin, dukungan pemilih Jakarta kepada Ahok paska status tersangka masih tinggi. Hanya saja perlu ditopang oleh kinerja partai-partai pengusung. Mereka seharusnya hadir ditengah masyarakat saat Ahok-Djarot ditolak oleh sebagian warga. Artinya, partai-partai pendukung harus solid menjaga Ahok-Djarot dari serangan para pesaingnya,” pungkasnya.