Bamusi: Kasus Ahok, Ada Kelompok Bermain di Air Keruh

Bamusi: Kasus Ahok, Ada Kelompok Bermain di Air Keruh

0
BERBAGI
Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi)

JAKARTA-Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) menilai  adanya distorsi informasi terkait Al Maidah yang dipenggal dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu membuat masyarakat terprovokasi, padahal pernyataan yang disampaikan Cagub Petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok)  tidak mengandung unsur penistaan agama. “Karena itu umat Islam harusnya memaafkan Ahok. Apalagi, cagub nomor urut 2 ini sudah menyampaikan permintaan maaf di beberapa kesempatan. Permintaan maaf Ahok itu merupakan itikad baik, semestinya kita sebagai umat muslim yang istiqomah harus memaafkannya,” ungkap Sekretaris Umum Bamusi Nasyirul Falah Amru, di Rumah Lembang, Selasa (6/12)

Sayangnya, niat baik Basuki meminta maaf diabaikan. Hal ini terjadi karena ada sebagian kelompok yang terus menerus bermain diair keruh. “Saya melihat, ada yang terus ‘mengipasin’ kasus ini. Jadi, biarkan saja. Pak Ahok nggak ngerti Alquran, ya sudahlah, dimaafkan saja. Apalagi, sekarang pak Ahok sudah menjadi tersangka, kurang apa lagi.”

Falah menjelaskan, tidak tertutup kemungkinan ada pihak yang menggoreng kasus Basuki ini. Dalam politik, setiap kesempatan sekecil apapun bisa dipakai sebagai senjata membunuh. “Namanya pilkada, politik bermain diair keruh. Kasus Ahok ini terus digoreng oleh lawan politik.

Kalau umat Islam melihat secara utuh videonya, saya percaya pak Basuki tidak akan dihakimi sedemikian ini sadisnya,” ungkapnya.

Falah menjelaskan saat itu terkait Al Maidah berdasarkan bahan yang dibaca dari selebaran saat pilkada Gubernur Bangka Belitung tahun 2007. “Jadi, Ahok mengutip  dari selebaran itu. Dalam selebaran itu tertulis  jangan sampai dibodohi pakai ayat Al Maidah dan dia menyampaikan itu apa adanya,” tegas

Dia menjelaskan pernyataan Basuki berdasarkan apa yang dibaca dan dilihatnnya dari selebaran saat pilkada Gubernur Bangka Belitung tahun 2007 lalu.

Menurut Falah, pola dan permainan politik seperti ini pernah dialami Basuki ketika mengikuti kontestasi pilkada 2007 lalu di Bangka Belitung. “Kami berpendapat, tidak ada sama sekali unsur penistaan terhadap Islam, apalagi Alquran,” tegasnya.

Untuk itu, Falah meminta masyarakat percaya dengan proses hukum kasus ini. Proses ini akan menjadi entri point untuk mengungkap kasus ini secara tranparan. Karena itu, apapun keputusan nanti harus diterima oleh semua pihak. “Kita harus yakini bahwa proses hukum ini jalan terbaik. Apapun hasilnya, mari kita hormati,” harapnya.

Dia percaya, hakim yang mengadili perkara Basuki ini akan melihat secara utuh krologis bagaimana Basuki dijadikan tersangka. “Saya yakin, apapun hasil persidangkan nanti, umat Islam bisa tenang dan Basuki bisa mengikuti kontestasi pilgub. Apapun bunyi palu hakim, harus diterima iklas,” pungkasnya.

Kendati demikian, Falah mengaku wajar-wajar saja jika ada umat Islam yang merasa tersinggung dengan ucapan Basuki ini. Akan tetapi, jika umat Islam mendengar secara utuh pernyataan Basuki tersebut, mungkin akan lain pendapatnya. Karena video utuh pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu sama sekali berbeda dengan video hasil editan yang belakangan menjadi viral di media sosial.

“Jadi, memang ada bedanya antara video editan dan video asli pernyataan Basuki di hadapan warga Kepulauan Seribu. Nanti terlihat jelas perbedaannya dan konteksnya karena secara gamblang menjelaskan duduk persoalannya,” pungkasnya.