Banyak Kader Tersangkut Korupsi, Trend Partai Golkar Diprediksi Turun

11

JAKARTA-Kejayaan Partai Golkar di masa-masa lalu belum tentu terulang di masa sekarang dimana pergeseran pola pikir para pemilih saat ini yang semakin cerdas dan realistis dalam menentukan pilihannya. Tentu saja pergeseran pola pikir pemilih tersebut mesti menjadi perhatian serius bagi partai Golkar jika ingin tetap eksis sebagai partai besar. “Jika kalah di Pileg, maka AH terancam tidak dipilih lagi,” kata Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin saat dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (05/12/2018).

Lebih jauh kata Ujang, berhasil atau tidaknya partai Golkar memenangkan pileg tergantung kepada gaya kepemimpinan ketua umum Partai Golkar saat ini. “Jika Golkar kalah di bawah kepemimpinan Airlangga Hartarto, AH bisa tidak terpilih lagi di munas berikutnya,” tegasnya

Tak dapat dipungkiri, ungkap dia, sejumlah kasus korupsi yang menjerat kader Golkar juga akan banyak berimbas pada suara partai tersebut dalam pemilu nanti. “Trendnya memang menurun. Dan itu wajar karena banyak elit dan kadernya yang tersangkut kasus korupsi. Jadi pemberitaan yang buruk di masyarakat. “Kita tahu, SN dan IM, mantan ketum dan sekjennya masuk penjara semua. AH pun diduga dan disebut-sebut oleh Eni Saragih,” ujar Direktur Eksekutif Indonesian Political Review (IPR) itu.

Tak ada pilihan lain, menurutnya, Airlangga Hartarto selaku ketum Golkar harus terus melakukan konsolidasi sampai ketingkat akar rumput. “Yang pasti AH harus intensif, jika Golkar mau menang,” saran dia.

Lebih lanjut Ujang menyarankan agar ditengah potensi suara kaum milenial yang cukup besar, Golkar mesti mengubah pendekatan yang bersifat konservatif kearah yang rasional guna meraup suara mereka. “Ini yang harus dipikirkan oleh petinggi Golkar. Jangan abai dengan suara kaum millenial. Jika polanya seperti saat ini. Akan sulit Golkar merebut hati kaum milenial,” pungkasnya.