Basuki Terima Pengaduan Ratusan Warga di Rumah Lembang

Basuki Terima Pengaduan Ratusan Warga di Rumah Lembang

0
BERBAGI
salah seorang warga mengadukan jalan rusak ke Cagub DKI, Basuki Tjahaja Purnama

JAKARTA-Calon Gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama kembali melayani pengaduan dan laporan warga di Posko Pemenangan Ahok – Djarot pada Pilkada DKI ke Rumah Lembang, di Jalan Lembang Nomor 27, Menteng, Jakarta Pusat.

Pemandangan seperti ini biasa dilakukannya di Balaikota DKI Jakarta sebelum cuti sebagai gubernur. Saat masih menjabat gubernur, setiap pagi, puluhan warga sudah mengantre di pendopo Balai Kota untuk mengadu, memberi undangan atau sekadar foto bersama dengan Basuki.

Mulai Senin (14/11), Basuki mendengar laporan masyarakat di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta setiap Senin sampai Jumat pukul 08.30 – 10.30 WIB.

Sekitar kurang lebih 100 orang warga Jakarta  dan beberapa orang warga dari luar Jakarta dan beberapa orang luar Jawa menyampaikan uneg-unegnya ke Cagub Nomor Urut 2 ini.

Mengenakan kemeja khasnya, motif kotak-kotak, Basuki datang ke Rumah Lembang sekitar pukul 08.30 WIB. Basuki disambut ratusan warga yang telah menanti kedatangannya.

Setelah bersalaman dengan warga, Basuki langsung mengambil tempat di atas panggung belakang rumah itu untuk mendengarkan langsung keluhan, laporan ataupun pengaduan warga.

Beberapa persoalan yang disampaikan ke Basuki diantaranya kemacetan dan ketertiban lahan parkir, serta gaji guru, sampah dan pasar jaya.

Namun dari seratusan warga Jakarta, yang mendapat kesempatan untuk berkomunikasi langsung dengan Basuki sebanyak 21 orang. Jumlah sebesar itu, dikarenakan keterbatasan waktu. rmh-lembang2

Dari 21 orang yang mendapat kesempatan berkomunikasi langsung dengan calon gubernur bernomor urut 2 ini, hanya sepuluh orang yang benar-benar menyampaikan apa yang menjadi persoalan mereka sebagai warga Jakarta.

Sisanya, sebelas orang hanya menyampaikan dukungan politik mereka kepada Basuki. Di antaranya warga dari Kepulauan Meranti Riau, warga dari Kalimantan Timur, alumni SMP Negeri 3 Pematang Siantar, Sumatera Utara, dan  Jaringan Pendamping Kebijakan dan Pembangunan Nasional yang berada di 33 Provinsi, serta seorang perempuan asal Jawa Tengah yang bekerja di Singapura pada satu perusahaan kelapa sawit,  Asia Plantation Capital Berhad, Yasmin Shayk.

Yasmin mengatakan kedatangannya ke Rumah Lembang tidak lain ingin memberi dukungan moril kepada Calon Gubernur Basuki. “Saya kebetulan pas ada konferen di Jakarta, tetapi tidak apa-apa telat, karena saya ingin langsung bertemu dengan Pak Basuki, dan memberikan dukungan penuh. Saya berasal dari Jawa Tengah,” ungkapnya.

Sama halnya dengan Yasmin, Syaifudin, Warga Kalimantan Timur yang juga memberi dukungan poltik dan morilnya kepada Basuki yang lebih popular di panggil Ahok oleh warga Jakarta ini.

Meskipun tidak memilih karena bukan wagha Jakarta, Syaifudin menyampaikan rasa simpati kepada Basuki yang sedang dizalimi.”Ini ujian dari Allah, “pak Ahok jangan mundur, Pak Ahok harus tetap maju. Karena pak Ahok harus menjadi contoh buat Jakarta dan naik tingkat menjadi contoh yang baik buat Indonesia,” harapnya.

Sedangkan, sepuluh warga Jakarta yang menyampaikan permasalahan keseharian yang mereka hadapi berkisar soal tempat tinggal, gaji guru, kemacetan, sampah, dan satu persoalan pasar. Persoalan tempat tinggal yang disampaikan oleh warga Gempol Kemayoran yang hingga kini sarana jalannya rusak dan becek ketika turun hujan yang juga belum dibenahi.

Sebagai Cagub Nomor urut 2, yang statusnya juga masih sebagai gubernur, Basuki menjawab keluhan tersebut dengan mengingatkan warga Gempol Kemayoran itu bahwa yang ditempati mereka adalah tanah Negara. “Ibu tinggal di atas Tanah Negara itu sudah menyalahi aturan,” terangnnya.

Karena itu, jalan keluarnya saran Basuki, warga mau direlokasi ke Rusun. Apalagi, Basuki mengaku telah meminta untuk disediakan tanahnya untuk dibangun Rusun. “Dan bayar uang Rp 300 ribu perbulan. Itu jangan diartikan mahal karena anak ibu ke sekolah mendapat angkutan bus dan gratis, belanja daging murah hanya Rp 35 ribu perkilo,” tuturnya.

Saat mendapat pengaduan terkait persoalan tumpukan sampah, Basuki mengecek alamat dan lokasi yang dimaksudkan melalui selulernya.

Basuki menjelaskan jika tempat-tempat dimaksud ada titik merahnya berarti tengah diatasi. “Bapak dan Ibu nggak usah khawatir. Jika dalam beberapa minggu masih juga merah, maka akan langsung di cek ke lapangan, dicari apa penyebabnya hingga belum ditangani. Jika ternyata yang bertanggung jawab males, orang tersebut langsung saya pecat,” tegasnya.

Beberapa persoalan yang menjadi keluhan warga Jakarta, dijawab secara jelas dan tuntas dalam pertemuan 14 Nopember 2016, di Rumah Lembang, terkait persoalan hukum yang meliputi persoalan jual beli tanah, Basuki menyerahkannya kepada staffnya agar dicatat untuk ditindaklajuti.