BI: Ekonomi Indonesia Stabil Dengan Prospek Baik

60
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara

TOKYO-Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara menjelaskan perekonomian Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang stabil dan memiliki prospek yang cukup baik. Demikian disampaikan Mirza di hadapan sekitar 170 peserta diskusi di ASEAN-Japan Centre, Tokyo, Jumat (14/10).

Acara yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tokyo bekerjasama dengan ASEAN-Japan Centre di Tokyo Jepang ini mengambil tema “Structural Reform and Monetary Policy in Indonesia”, dan dihadiri oleh analis ekonomi, investor, perwakilan dunia usaha di Jepang, serta perwakilan bank sentral asing yang berada di Tokyo.

Perhatian cukup besar diberikan oleh para peserta antara lain terhadap arah kebijakan moneter BI ke depan, dampak paket deregulasi kebijakan fiskal, termasuk perkembangan tax amnesty, dan prospek dunia usaha di Indonesia.

Sekjen ASEAN-Japan Centre, Masataka Fujita mengatakan bahwa Indonesia memiliki posisi yang sangat signifikan dalam perekonomian di Asia.  Namun informasi yang beredar di kalangan investor luar negeri sering tidak memberikan gambaran riil terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Di sisi lain jelasnya, masih terdapat persepsi yang kurang mendukung terhadap kondisi investasi di Indonesia. Karena itu, dia berharap kegiatan ini dapat membuka mata dan wawasan para peserta sehingga dapat memberikan informasi yang komprehensif terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Lebih lanjut, Mirza Adityaswara mengatakan pemerintah Indonesia saat ini memiliki komitmen yang kuat terhadap reformasi struktural di Indonesia. Hal tersebut tercermin dari 13 paket deregulasi kebijakan di bidang ekonomi yang telah dikeluarkan pemerintah. “Tidak hanya itu, untuk memastikan implementasi dari paket deregulasi tersebut, Presiden RI telah membentuk task force/gugus tugas untuk melakukan monitoring terhadap implementasinya,” terangnya.

Salah satu contoh nyata implementasi deregulasi kebijakan yang telah dilakukan adalah implementasi One Stop Service dalam perizinan investasi serta mendorong sektor unggulan baru misalnya pariwisata, melalui kebijakan pemberian bebas visa kepada 169 negara, guna mendorong peningkatan arus wisatawan ke Indonesia.

Dari sisi kebijakan moneter, BI di tahun 2016 ini telah melakukan reformulasi kebijakan suku bunga acuan, dengan mengubah acuan suku bunga dari BI Rate dengan BI 7-Day Repo Rate. Langkah ini dilakukan bukan untuk mengubah sikap kebijakan, namun dilakukan untuk menyempurnakan transmisi kebijakan moneter. Selain itu, BI juga telah melakukan pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial. “Ke depan, BI melihat masih terdapat peluang untuk melakukan pelonggaran kebijakan, tentunya dengan selalu melihat dinamika perekonomian yang terjadi,” tuturnya.

Dari sisi perkembangan kredit, walaupun saat ini pertumbuhan kredit masih belum optimal, BI optimis di tahun 2017 masih terdapat potensi peningkatan, seiring dengan mulai terjadinya pemulihan harga komoditas.

Menurutnya, sinergi kebijakan pemerintah dan BI telah mendorong optimisme pada perekonomian Indonesia. Hal tersebut terlihat pada inflasi yang diperkirakan terkendali, defisit neraca transaksi berjalan yang aman pada kisaran 2,0%-2,5% di tahun 2016 dan 2,5%-3,0% di tahun 2017, serta keseimbangan fiskal yang dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah. “BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada dalam kisaran 4,9%-5,3% di tahun 2016, dan pada kisaran 5,1%-5,5% di tahun 2017,” ucapnya.

Dalam diskusi tersebut, tampil pula pembicara lain, yaitu Dr Yuri Sato, yang merupakan Executive Vice President Institute Developing Economies. Dr Yuri Sato merupakan salah satu ahli mengenai Indonesia di Jepang. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan perjalanan transformasi politik dan ekonomi di Indonesia dari periode tahun 1960-an hingga saat ini. Menurutnya telah cukup banyak perubahan positif yang terjadi di Indonesia saat ini, walaupun masih banyak pula tantangan yang dihadapi ke depan.