BI: Gejolak Harga Bahan Makanan Dorong Inflasi Mei 2016

18
photo dok: bloomberg

JAKARTA-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi  pada Mei 2016 sebesar 0,24 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran. “Sejalan dengan perkiraan Bank Indonesia (BI), Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Mei 2016 mencatat inflasi sebesar 0,24% (mtm),” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI di Jakarta, Rabu (1/6).

Meski demikian, inflasi IHK pada periode menjelang bulan Ramadhan pada tahun ini cukup terkendali dan lebih rendah dibandingkan rata-ratanya dalam lima tahun terakhir. Inflasi terjadi di semua komponen dan terutama bersumber dari komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods) dan komponen barang yang diatur pemerintah (administered prices). “Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara year to date (ytd) dan tahunan (yoy) masing-masing mencapai 0,40% (ytd) dan 3,33% (yoy), serta berada dalam kisaran sasaran inflasi Bank Indonesia, yaitu sebesar 4±1% (yoy),” terangnya.

Menurutnya, komponen volatile foods (VF) mencatat inflasi secara bulanan sebesar 0,32% (mtm) atau secara tahunan 8,15% (yoy). Inflasi komponen ini terutama bersumber dari peningkatan harga komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan minyak goreng, seiring dengan meningkatnya permintaan menjelang bulan Ramadhan. Namun, inflasi VF tertahan dengan menurunnya harga komoditas lainya, seperti cabai merah, beras, dan tomat sayur. “Komponen administered prices (AP) secara bulanan mencatat inflasi sebesar 0,27% (mtm), atau secara tahunan mencatat deflasi sebesar 0,95% (yoy),” urainya.

Dia menambahkan inflasi bulanan komponen AP tersebut terutama didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara. Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,23% (mtm) atau 3,41% (yoy), sejalan dengan terjaganya ekspektasi inflasi dan masih terbatasnya permintaan domestik.  “Ke depan, inflasi diperkirakan akan tetap terkendali dan berada pada sasaran inflasi 2016, yaitu 4±1% (yoy). Koordinasi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi akan terus diperkuat, khususnya dalam mengendalikan tekanan inflasi pada bulan Ramadhan dan Lebaran. Koordinasi akan difokuskan pada upaya menjamin pasokan, khususnya berbagai bahan kebutuhan pokok, dan menjaga ekspektasi inflasi,” pungkasnya.