BI Kemungkinan Perketat Moneter 2013

33

Jakarta—Defisit transaksi berjalan yang masih cukup besar hingga akhir 2012 bisa membuat Bank Indonesia mengambil langkah pengetatan moneter pada 2013. “Apalagi pertumbuhan kredit sudah mencapai 25%. Sehingga cost of fund (biaya dana) juga makin berat,” kata Kepala riset UBS Investment Research, Joshua Tanja di Jakarta,31/10
Selain itu, kata Joshua, eksposur kredit dalam dolar Amerika Serikat (AS) masih besar. Hal inilah yang juga bisa memaksa akan adanya pengetatan moneter di tahun depan. “Jadi ada kemungkinan profitabilitas perbankan tahun depan tidak sebagus tahun ini,” ujarnya
Menurut Joshua, dalam kurun tiga tahun terakhir pertumbuhan kredit sudah tumbuh mencapai 25%. “Loan to Deposit Ratio (LDR) atau rasio pinjaman terhadap simpanan tahun ini mencapai 85 % dan itu tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Akibatnya cost of fund (biaya dana) semakin naik, margin makin tipis,” tambahnya
Oleh karena itu, dia menilai bank sentral akan melakukan pengetatan moneter tahun depan. Di memprediksi, masa-masa yang cukup baik bagi pertumbuhan kredit selama tiga tahun terakhir kemungkinan akan berakhir tahun depan. “Akan ada kenaikan kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) di sektor pertambangan. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan kredit perbankan,” ungkapnya.
Padahal beberapa waktu lalu, Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, sempat mengungkapkan pertumbuhan kredit di kuartal tiga ini sebesar 23,6 % masih relatif baik. BI juga menilai pertumbuhan kredit masih sesuai dengan kegiatan perekonomian Indonesia. “Kita akan pantau terus bagaimana perkembangan ke depan. Akhir tahun, pertumbuhan kredit bisa diperkirakan antara 22-25 %,” ujarnya
Sebelumnya, meski BI telah mendata hingga pekan ke-3 Juni 2012, pertumbuhan kredit mencapai sekira 28 % secara year on year (yoy) pertumbuhan tersebut masih dapat dikatakan normal. “Saya kira itu bisa dikatakan relatif normal karena dukungan kapitalnya masih memadai,” ungkap Deputi Gubernur BI, Muliaman D Hadad, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Muliaman melanjutkan, pertumbuhan kredit tersebut disumbang dari pertumbuhan kredit investasi dan kredit modal kerja. Dia menambahkan, dengan jumlah pertumbuhan kredit tersebut bisa dikatakan adanya demand atau permintaan yang kuat. “(Angka) yoy itu bisa begini walaupun tekanan dorongan demand itu masih cukup kuat saya katakan tentu saja dengan memperhatikan pertimbangan perkembangan di luar. Saya kira ujung-ujungnya tidak akan banyak berkisar pada RBB yang sudah diajukan,” paparnya. Muliaman menambahkan, hingga akhir tahun ini diprediksi permintaan akan kredit tetap masih akan kuat. “Saya kira sampai akhir tahun demand for credit masih cukup kuat dan checking terakhir kita kepada bank-bank minat untuk consume, demand yang cukup kuat itu di-consume oleh beberapa bank besar,” imbuhnya. **