BI Luncurkan Kurs Referensi USD-IDR

47

JAKARTA – Guna mendukung pendalaman pasar valuta asing (valas) domestik, Bank Indonesia (BI) meluncurkan acuan kurs referensi harga spot antara nilai tukar rupiah terhadap doal Amerika Serikat (AS). Pemberlakukan kurs referensi mulai Senin (20/5) kemarin, sedianya diperlukan untuk meningkatkan akurasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Menurut Direktur Eksekutif dan Kepala Departemen Komunikasi BI, Difi A Johansyah, sebelumnya informasi harga dolar AS terhadap rupiah hanya berdasarkan kuotasi bank. “Karena tidak didasarkan pada transaksi aktual, maka kuotasi harga dapat memberikan informasi harga yang kurang akurat,” kata Difi di Gedung BI Jakarta, Senin (20/5).

Bahkan, jelas Difi, praktik tersebut bisa menimbulkan asimetri informasi yang pada akhirnya menyebabkan pembentukan harga tidak efisien di pasar. Dengan demikian, lanjut dia, diperlukan referensi harga spot dolar terhadap rupiah yang kredibel untuk mendukung pembentukan harga yang efisien di pasar.  “Kurs referensi atau Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” terang Difi.

Dia menjelaskan, Jisdor merupakan harga spot dolar terhadap rupiah yang disusun berdasarkan transaksi valuta asing antarbank. Sementara itu, datanya diperoleh secara real time melalui Sistem Monitoring Transaksi Valuta Asing terhadap Rupiah (Sismontavar) yang ada di BI.

Pembentukan Jisdor, menurut dia, didasari rata-rata tertimbang dari volume seluruh transaksi dolar AS terhadap rupiah antarbank dalam rentang waktu pukul 08.00–09.45 WIB. Jisdor itu diumumkan pukul 10.00 WIB pada website BI, www.bi.go.id.

Selama waktu tersebut, kata Difi, setidaknya terdapat 50 transaksi pasar dari berbagai bank, namun jika dihitung selama satu hari biasanya terdapat 200 transaksi. Saat ini, ujar dia, terdapat 70 bank devisa yang berkontribusi memberikan nilai acuan yang mencerminkan kondisi pasar.

“Data tersebut akan tersedia setiap hari kerja, tidak termasuk Sabtu, Minggu dan hari libur nasional atau hari lain yang ditetapkan sebagai hari libur,” papar Difi.

Meski diluncurkan dalam website BI, tegas Difi, kurs referensi tersebut bukan bersifat mandatory. Kurs referensi ini diharapkan bisa memberikan informasi yang kredibel sebagai acuan bagi pelaku pasar keuangan dalam bertransaksi.

Selain itu, tambah Difi, kurs referensi akan menjadi alat monitoring dan asesmen BI dalam membentuk pasar valas agar berkembang secara sehat dan mempunyai daya tahan lebih tinggi terhadap gejolak pasar.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan, pengumuman secara periodik tersebut diharapkan mampu mensimetriskan informasi rata-rata tertimbang nilai tukar rupiah yang ditransaksikan oleh semua bank. “Sumbernya, kurs yang terjadi antara pukul 08.00-09.45 WIB dan ini akan diumumkan pada Pukul 10.00 WIB,” ujar Perry di Jakarta, belum lama ini.

Menurut Perry, kegunaan dari publikasi kurs referensi ini diyakini bisa menjadi masukan bagi para pelaku usaha untuk menghitung transaksi kurs yang dilakukan oleh seluruh bank di Indonesia. “Nanti kurs itu akan menjadi kurs tengah dari kurs nilai tukar rupiah. Ada juga kurs beli dan jual maupun kurs uang kertas asing (UKA),” ucap Perry.

Dipilihnya penetapan sumber informasi pada pukul 08.00-09.45 WIB, jelas Perry, karena umumnya transaksi dolar AS antarbank di dalam negeri terjadi pada sesi pagi. “Seumpamanya (waktu itu) tidak terjadi transaksi, maka yang akan dipublikasikan pada pukul 10.00 WIB adalah transaksi di hari sebelumnya yang terjadi pada pukul 10.00-16.00 WIB,” katanya.