BI Minta Perbankan Tak Naikkan Bunga Kredit

20

JAKARTA-Bank Indonesia mengklaim tidak ada alasan bagi perbankan untuk segera menaikkan tingkat bunga deposito, kredit, termasuk Kredit Kepemilikan Rumah (KPR), meskipun suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate telah naik 0,5 persen. Perbankan tidak perlu berloma-lomba menaikkan suku bunga dana untuk memperoleh likuiditas. “Kami sudah sampaikan bahwa Bank Indonesia akan memastikan likuiditas lebih dari cukup. Bukan cukup lagi, tapi lebih dari cukup,” kata Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, di Jakarta, Jumat (8/6/2018).

Perry menegaskan Bank Sentral akan terus menjaga ketersediaan likuiditas. Namun begitu, jika perbankan menaikkan suku bunga dana, lazimnya bank biasanya memilih untuk turut menaikkan suku bunga kredit guna mengurangi biaya dana.

Pada awal Ramadhan lalu, atau pertengahan Mei 2018, Bank Indonesia mengakui likuiditas perbankan mengetat karena penarikan dana yang masif menjelang Lebaran. Namun, menurut dia, hal itu hanya bersifat sementara dan tidak akan berkelanjutan.
“Maka dengan likuiditas itu, tidak ada alasan bagi perbankan, untuk naikkan suku bunga,” ujar dia.

Adapun, menurut data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), penempatan dana perbankan di instrumen giro BI mencapai Rp556 triliun pada awal 2018. Namun jumlah tersebut terus menurun hingga Rp380 triliun pada April 2018.

Ketua Dewan Komisioner LPS, Halim Alamsyah, menilai saat ini memang kondisi likuiditas perbankan relatif terjaga. Namun setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan, terdapat kecenderungan untuk mengetat, karena tren kenaikan suku bunga simpanan sudah terlihat.

“Tren suku bunga simpanan milai menunjukkan tren kenaikan dan berpotensi untuk meningkat merespon kenaikan suku bunga acuan,” kata Halim, beberapa waktu lalu. Selain itu, rasio kredit terhadap pendanaan (Loan to Deposit Ratio/LDR) perbankan juga meningkat pada April 2018 yang mencapai 89,86 persen, atau meningkat dari Maret 2018 yang mencapai 89,61 persen.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Dody Waluyo, optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 masih akan berada dalam rentang proyeksi 5,1 persen sampai 5,5 persen. “Kami masih tetap akan optimistis, meskipun kenaikan suku bunga akan sedikit menurunkan koreksi atas proyeksi di awal tahun namun tidak akan mengubah dari sisi kisaran kita di 5,1 persen-5,5 persen,” kata dia, ditemui usai diskusi di kantor Center for Strategic and International Studies (CSIS), Jakarta, Rabu, (6/6/2018).

Ia mengatakan, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2018 akan lebih banyak disumbang oleh investasi dan konsumsi.
“Kalau kita melihat konsumsi, perkiraan BI akan lebih baik. Aktivitas politik dan olahraga akan mendorong tambahan di konsumsi kita,” ujar dia.

Ia juga mengungkapkan, konsumsi berkontribusi 54 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga kenaikan sedikit dari faktor tersebut akan mampu mendorong pertumbuhan lebih baik. “Dan yang kedua adalah investasi, kita pembiayaan infrastruktur akan terus dilakukan pemerintah,” kata dia.

Sementara itu, Bank Dunia merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018 menjadi 5,2 persen dari sebelumnya 5,3 persen.

Perkiraan itu seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan arus perdagangan yang menurun dari level tertingginya baru-baru ini.

Menurut Bank Dunia, meningkatnya proteksionisme perdagangan, terdapat risiko riil bahwa percepatan perdagangan global baru-baru ini dapat terhenti dan membebani ekspor Indonesia dan dengan demikian menghambat pertumbuhan.

Peningkatan lebih lanjut dalam langkah-langkah dan sentimen proteksionis tersebut, dapat mengakibatkan hambatan yang lebih besar dari sektor eksternal terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.