BI Rate Tetap 7,50%

28

JAKARTA-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%.

Gubernur BI, Agus Martowardojo  mengatakan kebijakan tersebut masih konsisten dengan upaya mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4,0±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.

BI menilai respon kebijakan yang ditempuh bank sentral dan Pemerintah dapat mengarahkan penyesuaian ekonomi pada triwulan I 2014 dan April 2014 tetap terkendali. Hal ini tercermin pada inflasi yang masih berada dalam tren menurun dan defisit transaksi berjalan yang mengecil. Permintaan domestik juga tetap terkelola dengan baik, meskipun pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2014 menurun dan tercatat lebih rendah dari perkiraan akibat kontraksi pada ekspor riil, terutama komoditas pertambangan. “Ke depan, BI terus mencermati berbagai risiko, baik dari global maupun domestik, dan menempuh langkah-langkah antisipatif guna memastikan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dan mendukung perbaikan kinerja transaksi berjalan,” ujar Agus usai Rapat Dewan Gubernur (RGD) BI di Gedung BI Jakarta, Kamis (8/5).

Untuk itu, jelasnya BI akan senantiasa memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan, serta kebijakan untuk memperkuat struktur perekonomian domestik dan pengelolaan Utang Luar Negeri (ULN), khususnya ULN korporasi.

Sementara itu, terkait dengan kondisi ekonomi global, asesmen Bank BI jelasnya menunjukkan pemulihan ekonomi global masih berlanjut. Perbaikan kondisi ekonomi global terutama ditopang oleh perekonomian negara-negara maju seperti AS dan Eropa sebagai dampak stimulus moneter yang masih berlanjut. Perbaikan kondisi ekonomi global tersebut berdampak pada kenaikan volume perdagangan dunia. Namun demikian, perlambatan pertumbuhan ekonomi terjadi di Tiongkok sejalan dengan kebijakan penyeimbangan ekonomi yang ditempuhnya. Harga komoditas juga masih cenderung menurun, khususnya pada komoditas karet, tembaga dan batubara. “Ke depan, BI akan terus mencermati berbagai risiko dari perekonomian global, terutama risiko yang bersumber dari normalisasi kebijakan the Fed dan risiko perlambatan ekonomi Tiongkok,” pungkasnya.