BI: Sustainabilitas Fiskal Kunci Pencapaian Target Rupiah

24
Gubernur BI, Agus Martowardoyo

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) menilai, asumsi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2017 hanya bisa tercapai jika pemerintah konsisten membangun sustainabilitas fiskal yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih positif.

Menurut Gubernur BI, Agus Martowardojo, asumsi rupiah terhadap dollar AS yang tertuang di RAPBN 2017 di level 13.300 masih sejalan dengan perkiraan yang disampaikan bank sentral di kisaran 13.300-13.600. “Kami menyambut baik apa yang disampaikan pemerintah. Tetapi, penekanan-penekanannya adalah membangun fiskal yang sustainable,” kata Agus Marto di Gedung Parlemen Jakarta, Selasa (16/8).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo saat menyampaikan Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang RAPBN Tahun Anggaran 2017 beserta Nota Keuangannya mengatakan nilai tukar rupiah diperkirakan sebesar Rp13.300 per dolar Amerika Serikat.

Presiden menjelaskan, upaya penguatan di sektor keuangan dibangun oleh Pemerintah bersama dengan Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan OJK). Kerangka pendalaman pasar keuangan ini diharapkan dapat mempengaruhi arus modal masuk ke pasar keuangan Indonesia serta dapat mengurangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Agus Marto menjelaskan, asumsi rupiah di RAPBN 2017 sebesar Rp13.300 merupakan target yang masih realistis dengan tren perbaikan ekonomi domestik dan dinamika global. “Kalau range 13.300 itu menurut kami masih dalam range yang bisa diterima. Itu kan rata-rata setahun,” ujarnya.

Dia¬† menambahkan, saat ini pola apresiasi rupiah juga sejalan dengan tren menciutnya defisit neraca transaksi berjalan. “Kalau di 2016 current account deficit akan sebesar 2,5 persen (terhadap PDB-). Kalau 2017 itu akan 2,41 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, lanjut dia, asumsi pertumbuhan ekonomi di RAPBN 2017 sebesar 5,3 persen dinilai cukup konservatif. “Tentu yang akan banyak berperan adalah seberapa sukses kita di kebijakan tax amnesty,” jelas Agus Marto.

Mantan Menkeu ini memperkirakan, dana repatriasi dari kebijakan amnesti pajak akan banyak masuk pada Kuartal IV-2016 hingga kuartal pertama tahun depan. “Dana yang masuk itu akan cukup membantu pertumbuhan ekonomi,” tegasnya.