BI: Uang Beredar Naik 6,5%

52
ULN

JAKARTA-Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret 2019 tumbuh sebesar 6,5 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp5.744,2 triliun atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar enam persen (yoy).

Akselerasi likuiditas perekonomian atau M2 itu terutama didorong komponen uang beredar dalam arti sempit (M1) dan surat berharga selain saham yang masing-masing tumbuh 4,8 persen (yoy) dan 23,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 2,6 persen (yoy) dan 16,8 persen (yoy).

Sementara itu, pertumbuhan komponen uang kuasi relatif stabil sebesar 7,1 persen (yoy), sebut Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) dalam info terbarunya di Jakarta, Selasa.

Dijelaskan, berdasarkan faktor yang memengaruhi, peningkatan pertumbuhan M2 terutama dipengaruhi oleh perbaikan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih serta ekspansi keuangan pemerintah.

Pertumbuhan aktiva luar negeri bersih pada Maret 2019 membaik menjadi -3,7 persen (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar -5,1 persen (yoy). Perbaikan tersebut seiring dengan kenaikan cadangan devisa pada Maret 2019.

Sementara itu, operasi keuangan pemerintah pada Maret 2019 mengalami ekspansi tercermin dari peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah pusat, yaitu dari -25,3 persen (yoy) menjadi -9,1 persen (yoy), sejalan dengan perlambatan rekening giro pemerintah pusat di Bank Indonesia dan perbankan.

Beberapa bulan lalu, sekitar Pebruari 2019, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh melambat pada Januari 2019 yang tercatat Rp5.645,8 triliun atau tumbuh 5,5 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 6,3 persen (yoy).

“Perlambatan M2 dikontribusikan oleh seluruh komponennya yakni uang beredar dalam arti sempit (M1), uang kuasi, dan surat berharga selain saham,” kata Bank Indonesia dalam info terbarunya di Jakarta, Kamis, (28/2/2019)

Disebutkan, M1 tumbuh 3,8 persen (yoy), uang kuasi tumbuh 6,0 persen (yoy), dan surat berharga selain saham 10,3 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 4,8 persen (yoy), 6,8 persen (yoy), dan 11,8 persen (yoy).

Perlambatan pertumbuhan M2, kata BI, terutama dipengaruhi oleh penurunan aktiva luar negeri bersih serta kontraksi operasi keuangan pemerintah.

Aktiva luar negeri bersih pada Januari 2019 turun lebih dalam menjadi -9,3% (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen (yoy). Penurunan aktiva luar negeri bersih tersebut terutama didorong oleh perlambatan tagihan kepada non residen yang disebabkan oleh penurunan cadangan devisa pada Januari 2019.

Adapun operasi keuangan pemerintah mengalami kontraksi tercermin dari penurunan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat, yaitu dari 3,3 persen (yoy) menjadi 14,1 persen (yoy) pada Januari 2019, sejalan dengan peningkatan rekening giro Pemerintah Pusat di BI. ***

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan pada Januari 2019 mencapai 11,9 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 11,7 persen (yoy).

BI juga menjelaskan transmisi suku bunga kebijakan Bank Sentral terus berlanjut di mana rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Januari 2019 tercatat sebesar 10,88 persen, meningkat delapan basis poin dibandingkan dengan suku bunga pada bulan sebelumnya.

Adapun rata-rata tertimbang suku bunga simpanan berjangka pada sebagian besar tenor juga meningkat pada Januari 2019 di mana suku bunga simpanan berjangka tenor 3, 6, 12 dan 24 bulan tercatat masing-masing sebesar 6,91 persen, 7,20 persen, 6,69 persen, dan 7,27 persen, meningkat dibandingkan dengan suku bunga pada bulan sebelumnya sebesar 6,84 persen, 7,06 persen, 6,51 persen, dan 7,21 persen.
Sementara, rata-rata tertimbang suku bunga simpanan berjangka tenor 1 bulan relatif stabil, yaitu sebesar 6,91 persen pada Januari 2019 dan 6,92 persen pada Desember 2018.