BI Upayakan Turunkan NIM

45

JAKARTA- Bank Indonesia (BI) akan terus berupaya menurunkan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) bank di Indonesia agar setara dengan NIM perbankan di  negara-negara tetangga. Salah satu langkah yang ditempuh bank sentral adalah meningkatkan persaingan antar bank dengan mengumumkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) secara transparan.  “NIM bank di Indonesia paling tinggi di dunia dan memang harus diturunkan.  Dan BI terus berupaya untuk itu. Tetapi, itu sangat tergantung industri perbankannya sendiri,”  ujar Direktur Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter  BI Endy Dwi Tjahjono,  seusai Seminar Prospek dan Tantangan 2013 “Prospek Perbankan dan Bisnis Properti  di Tengah Tantangan Menjaga Momentum Pertumbuhan” di Jakarta, (6/2).

Seperti diketahui, NIM bank di Indonesia rata-rata di bawah 6 persen, menjadi yang tertinggi dibandingkan NIM di bank kawasan  Asia Tenggara yang berkisar antara 3-5 persen.

Dia mengaku, BI sudah berhasil memaksa industri perbankan untuk menurunkan NIM ini. Pada awal tahun 2012, angka NIM masih bertengger di posisi 5,9 persen, dan berhasil diturunkan ke 5,2 persen pada Maret 2012, namun kembali naik menjadi 5,48 persen pada akhir tahun 2012. “Makanya, BI terus mendorong meningkatkan persaingan di perbankan. Sebab dengan ketatnya persaingan di industri perbankan maka secara otomatis menurunkan NIMnya.

Kendati demikian, dia tidak dapat memastikan berapa NIM yang ideal.  BI pelan-pelan berusaha menurunkan NIM. Namun upaya menurunkan NIM ini tidak mudah karena bank-bank memiliki basis perhitungan sendiri sehingga tidak bisa menurunkan secara drastic. Kita inginkan selevellah dengan NIM di perbankan negara-negara tetangga. NIM bank itu jangan terlalu tinggi. Tetapi kalau terlalu kecil, profit bank berkurang. Kalau NIM tinggi, beban masyarakat menjadi sangat besar. Karena itu, perlu dijaga keseimbangannya.

Ketika ditanya, soal target agar NIM setara dengan negara tetangga, Endy mengatakan BI tidak lagi mengawasi perbankan. “Kalau ditanya, kapan BI menurunkan NIM ini, sekarang pengawasan NIM ada di OJK. Sebab suku bunga perbankan itu menyangkut mikro prudential. Sementara BI mengawasi hal-hal yang bersifat makro prudential,” kilah dia.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara  mengatakan, cara melihat bank tidak hanya dari NIMnya saja. Tetapi cara menilai, apakah bank sudah melakukan fungsi intermediasinya atau belum. “Kalau bank tidak menyalurkan kredit, hanya beli SBI, itu bisa disalahkan. Tetapi kalau bank sudah menyalurkan kredit bahkan pertumbuhan kreditnya sampai 25-35 persen, saya kira, tidak soal,” ujar dia.

Menurut dia, bank yang pertumbuhan kreditnya diatas 25 persen sudah bagus sekali. “NIM tinggi itu terjadi karena cost of fundnya rendah dan suku bunga kredit tinggi. Sektor yang kurang kompetitif, bank kasih bunga kredit tinggi, tetapi  sektor yang kompetisinya banyak seperti KPR bunganya 8-9 persen dan sektor korporasi suku bunga sudah rendah di kisaran 7,5 persen,” jelas dia.

Tetapi sektor yang kurang kompetitif seperti sektor mikro, bunga kreditnya sekitar 20-30 persen. “Jadi, tambahnya orang masuk ke kredit mikro. Begitu caranya. Dengan sendirinya menciptakan persaingan yang membuat suku bunga kredit mikro turun,” jelas di.

Karena itu dia menegaskan agar jangan melihat bank dari NIM. Bank itu menggenjot laba supaya CAR nya bisa naik. “Kalau CARnya naik, banknya stabil maka bank bisa memberikan kredit.  Tetapi kalau bank nggak punya modal, banknya tidak stabil maka bank tidak akan memberi kredit. Jadi, salah kalau melihat bank dari NIM,” pungkas dia.