Big Data Kependudukan Memudahkan Layanan Perbankan

13

JAKARTA-Ibarat air, kalau tidak dialirkan lama-lama akan menjadi sarang nyamuk dan sumber penyakit. Sebaliknya air mengalir akan memberikan banyak manfaat dan maslahat bagi kehidupan.

Begitulah perumpamaan yang disampaikan Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dirjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Prof. Zudan Arif Fakrulloh terkait data kependudukan yang dikelola kantornya.

Dia menjelaskan pihaknya mengelola data kependudukan lebih dari 265 juta penduduk terus diperbarui dan di-update sehingga menjadi big data kependudukan yang bisa dimanfaatkan untuk semua keperluan pelayanan publik.

Data base kependudukan itu tak hendak disimpan sendiri melainkan didorong agar memiliki multiplier effect atau efek berantai untuk membangun reputasi bangsa menjadi lebih baik dan lebih maju.

Melalui data kependudukan tersebut, Ditjen Dukcapil sedang menyiapkan peradaban baru Indonesia dengan basis data penduduk yang kuat dan single identity number.

“Big data kependudukan ini kami share untuk digunakan bersama-sama agar memudahkan seluruh aktivitas pelayanan publik. Inilah bentuk cintanya pemerintah kepada seluruh rakyat,” ujar Prof. Zudan dalam acara Sosialisasi Pemanfaatan Data Kependudukan Sekaligus Penandatanganan Kerja Sama tentang Pemanfaatan NIK, dan KTP-el antara Ditjen Dukcapil dengan 23 lembaga keuangan dan perbankan di Gedung Wisma Mandiri lantai 11, Jakarta, Jumat (24/5/2019).

Saat ini sudah sebanyak 1.218 lembaga pemerintah maupun swasta yang memanfaatkan data base kependudukan yaitu nomor induk kependudukan (NIK), Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) dan data kependudukan lain yang dikelola Ditjen Dukcapil Kemendagri.

Berkat layanan data kependudukan yang semakin akurat sangat bermanfaat antara lain bagi lembaga keuangan bank dan non bank dalam melakukan transformasi tata kelola keuangan.

“Dengan memanfaatkan data kependudukan urusan perbankan menjadi makin mudah, murah, cepat dan efisien. Layanan nasabah pun terus berkembang makin canggih,” jelasnya.

Prof. Zudan memberikan ilustrasi, jika pada tahun 1980-an mengirim uang masih dengan wesel pos, maka 10 tahun kemudian bisa transfer uang lewat bank, kemudian berkembang lagi bisa dari ATM. Sekarang jauh lebih maju lagi dengan mobile banking sehingga transfer fulus atau belanja bisa lewat telepon selular.

“Walhasil risiko operasional lembaga keuangan bank non bank jadi makin rendah. Berbagai biaya bisa ditekan. Bunga bank pun bisa dipatok lebih rendah. Maka dampak akhirnya akan luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi kita, bisa diharapkan tumbuh lebih besar dari yang sekarang,” paparnya.

Sebagai bentuk penghargaan kepada pemerintah yang memberikan sharing data kependudukan sebagai wujud cinta kepada seluruh masyarakat, Dirjen Dukcapil tak lupa berpesan kepada para CEO dan direksi lembaga keuangan bank dan nonbank yang hadir agar menggunakan database kependudukan ini dengan penuh cinta pula.

“Kalo kita mencintai maka kita akan menjaga dan melindungi. Begitu juga terkait penggunaan data wajib dijaga kerahasiaannya. Jangan sampai data kependudukan lolos dan di-share di medsos. Data harus dijaga dirawat dilindungi tak boleh keluar kecuali untuk kepentingan bisnis,” tandas Prof. Zudan.