Bisnis Fashion Paling Cocok Marketing Via O2O

38

JAKARTA-Perkembangan bisnis e-commerce yang sangat cepat di Indonesia membuat para perusahaan e-commerce lainnya terus berlomba-lomba menghadirkan layanan-layanan terbaru untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Yang terbaru saat ini adalah maraknya konsep Online to Offline (O2O). “Konsep ini bertujuan untuk menghadirkan toko fisik dari e-commerce agar pelanggan dapat memiliki experience dalam berbelanja,” kata Co-Host Retail Community Co-Host, Rhesa Yogaswara dalam diskusi Forum Grup Disscusion di Jakarta, Sabtu (7/6/2018).

Dalam Forum Group Disscusion ini hadir Jeffry Anwar Sani (CoFounder tukangsayur.co), Simon Jonatan (Presiden Direktur Bintang Toedjoe), Ronny Rendra (National Product Manager Indofood Asahi Sukses), Devain Kapoor (Sonayna Boutique & Devian Kapoor Brand), Ricky Anselmus (Personal Start-Up Investor) dengan di moderatori oleh Joko Wiyono selaku Founder dari QASA CONSULTING.

Menurut Rhesa, pengusaha offline yang melakukan perubahan ke online, perlu dipahami bahwa investasi di online adalah program jangka panjang yang tidak cukup setahun dua tahun dalam menyuntikkan dana. “Sementara untuk pengusaha online ke offline, konsumen Indonesia, masih sangat membutuhkan memerlukan barang yang perlu dipegang dan dirasakan,” tambahnya.

Sementara saat ini, kata Rhesa, berbelanja online melalui marketplace banyak resiko yang harus dihadapi. Seperti barang tidak sesuai ukuran dan ekspektasi. Tentu saja tidak semua barang-barang di marketplace membutuhkan experience seperti alat elektronik atau lainnya.

Akan tetapi barang-barang yang digunakan oleh badan seperti pakaian masih sangat diperlukan experience untuk merasakan dan menyentuh barang tersebut. “Oleh karena itu untuk peluang Online to Offline (O2O) dirasa paling besar pada bidang fashion,”ucapnya

Dikatakan Rhesa, konsep O2O ini muncul dikarenakan ada sebuah perubahan yang membuat pasar bergeser. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan dari sisi channel. Zaman modern ini terdapat channel online yang membuat orang berbelanja tidak perlu beranjak dari rumahnya, cukup dengan memesan lewat internet.

Terlepas dari sudah terbiasanya masyarakat dalam belanja online, konsumen Indonesia masih belum bisa terlepas dari kebiasaan belanja offline. Pada intinya, konsumen indonesia belum bisa terlepas seutuhnya dari kebiasaan belanja konvensional. “Behavior baru konsumen Indonesia ini menunjukkan dua peluang baru baik dari sisi pengusaha retail offline, ataupun online. Peluang-Peluang ini dimanfaatkan oleh kedua pengusaha baik dibidang offline ataupun online,” terangnya lagi.

Menurutnya, bisa dilihat beberapa contoh pengusaha retail yang sedang mengembangkan channel onlinenya adalah Alfamart, Carrefour dan Indomaret. Sampai saat ini masih belum terdengar berita tentang suksesnya tranformasi online yang dilakukan oleh mereka, akan tetapi patut kita tunggu hasil dari perubahan channel mereka ke online.

Yang terbaru saat ini adalah maraknya konsep Online to Offline (O2O). Konsep ini bertujuan untuk menghadirkan toko fisik dari e-commerce agar pelanggan dapat memiliki experience dalam berbelanja. Beberapa contoh seperti mataharimall.com dan bhineka.com sudah menghadirkan layanan ataupun toko fisiknya secara offline. ***