Boediono Setuju Kembangkan Transportasi Murah

37

JAKARTA-Pemerintah sepakat dengan Gubernur DKI Jakarta, Jokowi yang menginginkan pembangunan transportasi missal bisa dilakukan secepatnya guna mengatasi kemacetan. “Pandangan saya, solusinya adalah meningkatkan transportasi publik secepatnya– baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah,” kata Wakil Presiden, Boediono di Jakarta,Kamis,(19/9).

Menurut Boediono, pemerintah pusat tidak akan lepas tangan dalam hal bekerja untuk mengatasi masalah-masalah di ibukota. “Baik itu kemacetan, banjir dan lain sebagianya karena Jakarta ini adalah jendela kita,” tegasnya

Diakui Guru Besar FE UGM ini, pemerintah pusat dan pemerintah daerah DKI Jakarta sudah memiliki beberapa poin kesepakatan apa-apa yang harus dilakukan masing-masing dalam mengatasi berbagai masalah.

Namun begitu, lanjut Boediono, ada kecemasan mobil low cost green car (LCGC) akan menambah masalah kemacetan di metropolitan Jakarta atau pusat-pusat urban lain. “Barangkali tidak perlu menghambat orang beli mobil, tapi kita bebani biaya kalau mobil itu masuk ke jalan-jalan ibukota,” paparnya

Wapres mengajak pemerintah pusat dan pemerintah DKI Jakarta untuk segera menerapkan Electronic Road Price (ERP) yang akan memberlakukan biaya ekstra bagi penggunaan jalan-jalan utama ibukota di waktu sibuk.

Demi mencapai kemajuan bangsa, seperti juga negara-negara lain di dunia Indonesia tak bisa menghindar dari tahap industrialisasi. Untuk itu pengembangan industri dalam negeri tak bisa dielakkan, baik dari hulu ke hilir maupun sebaliknya.

Wapres menegaskan bahwa ia sudah beberapa kali diundang untuk membuka pameran yang sama. Ia selalu hadir dalam keyakinan kuat bahwa indusri otomotif Indonesia harus maju dan menjadi tulang punggung industri dan industrialisasi bangsa.“Indonesia sebagai negara yang kaya dengan sumber alam dan pertanian tak bisa tinggal diam tanpa mengembangkan industry,” kata Wapres.

Industri otomotif, lanjutnya, masih sangat diperlukan di daerah-daerah. Namun juga, jangan sampai mobil dan motor lebih menumpuk di Jakarta, Medan, Surabaya atau kota-kota besar lainnya. “Jadi marilah cari cara untuk mengatasi masalah ini tanpa mengorbankan tulang punggung industrialisasi, tanpa mengorbankan lapangan kerja bagi pemuda-pemuda bangsa yang besar bakatnya,” pungkasnya. **can