Bunga, Melawan Kekerasan Dengan Bahasa Kelembutan

157
ilustrasi

Oleh: Rm Yohanes Kristo Tara, OFM

Tahun 1974 pernah terjadi revolusi bunga di Portugal. Revolusi Bunga, Revolução dos Cravos adalah revolusi tak berdarah. Rakyat memasang bunga anyelir di laras senapan Tentara. Dengan bunga, rakyat dan para perwira militer berhasil memaksa rezim diktator meletakkan kekuasaan secara damai.

Bunga itu keindahan, karena penuh warna warni. Dia bhineka, dia tidak monopoli warna. Bunga itu harum semerbak, karena kaya aroma.

Dia tidak mengenal diktator mayoritas atau tirani minoritas. Bunga itu lemah lembut, tidak kenal bahasa kekerasan. Itu tidak berarti bunga setuju dengan kekerasan.

Dia melawan kekerasan, tapi dengan bahasa kelembutan. Bunga dapat meluluhkan kemarahan. Jika ada orang yang suka marah-marah, kasih dia bunga.

Bunga mendinginkan hati yang panas. Jika ada orang yang sukanya panas-panasin orang di jalanan, kasih dia bunga. Kekuatan bunga jauh lebih dasyat. Dayanya jauh lebih besar. Dia tidak banyak bicara, tapi punya pesan jelas.

Memandang bunga selalu menyejukkan. Menatap bunga selalu meneduhkan. Mengecup bunga selalu menenangkan. Menghirup bunga memberi rasa damai yang mendalam, menyentuh jiwa, menggetarkan raga. Bunga selalu punya pesan spiritual.

Doa-doa kita dapat menjadi kering, jika tanpa bunga-bunga. Syukur kita menjadi hambar, tanpa memandang bunga. Terima kasih kita tidak lengkap, tanpa memberi bunga. Pesta kemenangan jadi tidak bermakna, tanpa kehadiran bunga. Karena itu, kendati semua manusia menjadi kafir, bunga-bunga akan tetap memuji dan meluhurkan nama Tuhan-Nya.

Ribuan bunga ada di Balai Kota, juga di markas-markas Polisi dan Tentara. Bunga telah masuk istana negara. Pesan jelas. Indonesia tidak butuh pedang. Sebab siapa yang mengangkat pedang, ia akan mati oleh pedang.

Indonesia tidak butuh laras, karena laras adalah darah. Ia akan berteriak sampai ke langit. Indonesia butuh bunga, agar kita tetap satu, agar tidak yang tersingkir, tidak ada yang terluka, tidak terpisahkan.

Mayoritas diam, tidak berarti kami tidak peduli. Mayoritas tidak bersuara, tidak berarti kami tidak punya kekuatan. Kami memberi bunga, agar Indonesia tidak kembali ke zaman batu, mengendarai onta sepanjang padang gurun. Kita adalah aneka ragam bunga di taman Indonesia, warna warni dan punya aroma masing-masing.

Mari kita persembahkan bunga untuk Indonesia kita, bukan pedang, bukan laras, bukan pula kemarahan dan kebencian, jika bukan makian dan umpatan jahat. Dan, berbahagialah mereka yang punya nama Bunga, pasti ada keindahan dan kelemahlembutan dalam jiwanya.…

 

Penulis adalah Rohaniwan, Tinggal di Perbatasan Indonesia