Bursa Timah Indonesia Jadi Referensi Harga Timah Dunia

45

JAKARTA-Transaksi fisik timah batangan untuk tujuan ekspor kini sudah dapat dilakukan melalui Bursa Timah. Metode transaksi seperti ini akan membantu pembentukan harga timah yang lebih transparan, sehingga nantinya harga timah Indonesia dapat menjadi referensi harga timah dunia. Peluncuran transaksi perdana dilakukan oleh Menteri Perdagangan RI Gita Wirjawan, di Jakarta Jumat (30/8).  “

Keuntungan lainnya, kata Mendag, cara perdagangan timah seperti ini dapat mencegah terjadinya praktek under invoice, meningkatkan penerimaan royalti, mencegah adanya praktek perdagangan timah ilegal, serta meningkatkan daya saing timah Indonesia. “Ini juga berarti Indonesia, sebagai produsen dan eksportir utama timah dunia akan menjadi penentu harga(price maker) timah dunia,”lanjutnya.

Namun demikian,  dia menambahkan bahwa timah batangan yang diperdagangkan  di bursa wajib memiliki kualitas dan spesifikasi standar yang tinggi dengan kandungan stannum (sn) sebesar 99,9%. Sebagai salah satu komoditas unggulan pertambangan, timah memegang peranan penting dalam struktur perolehan nilai ekspor produk pertambangan. Pada periode Januari-Mei 2013, volume ekspor timah mencapai 43.900 ton atau senilai USD 965,8 juta.

Gita berharap keberhasilan transaksi fisik komoditi ini diharapkan akan diikuti oleh komoditas potensial Indonesia lainnya, seperti batubara, nikel, karet, kakao, dan kopi.

Transaksi ekspor timah melalui bursa ini didasarkan pada kebijakan baru pemerintah, yaituPeraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 32/M-MDAG/PER/6/2013 Tentang Perubahan Atas Permendag Nomor 78/M-DAG/PER/2012 Tentang Ketentuan Ekspor Timah. Berdasarkan Permendag tersebut, perdagangan timah batangan untuk tujuan ekspor wajib dilakukan melalui Bursa Timah sejak tanggal 30 Agustus 2013. “Seiring dengan kondisi menguatnya dollar Amerika saat ini, peluncuran transaksi fisik timah batangan menjadi tepat momentumnya untuk meningkatkan nilai ekspor timah Indonesia dengan daya saing yang lebih kompetitif,”ujar Mendag.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kemendag Sutriono Edi menyatakan bahwa prinsip perdagangan melalui bursa adalah perdagangan bebas dan adil dimana semua pihak baik penjual maupun pembeli bebas ikut bertransaksi dan tidak ada pembatasan. Kemudian  transaksi dapat dilakukan secara multilateral dimana banyak penjual dan pembeli, sehingga tidak ada satu pihak yang melakukan monopoli.

Sutriono Edi menegaskan bahwa penyelenggaraan Bursa Timah oleh Bursa Berjangka lebih aman dan terpercaya karena didukung olehLembaga Kliring Timah sebagai lembaga penjaminan dan penyelesaian transaksi timah.

Selain itu, Lembaga Kliring Timah, Kelembagaan Pergudangan (PT. BGR)dan Lembaga Surveyor (PT. Sucofindo dan Surveyor Indonesia) juga membantu memastikan bahwa barang timah yang disimpan dan diperdagangkan telah sesuai dengan spesifikasi mutu yang telah ditetapkan dalam kontrak fisik timah.

Selanjutnya, Direktur Utama Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), Megain Wijaya, menyatakan bahwa BKDI (dikenal sebagai ICDX) telah sukses meluncurkan Pasar Timah Batangan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan industri timah Indonesia.

Perdagangan di pasar timah batangan BKDI dilakukan dengan menggunakan sistem lelang untuk menentukan harga penjual dan pembeli terbaik. Megain Wijaya menjelaskan bahwa akan ada limajenis kontrak yang diperdagangkan di BKDI, antara lain TINPB300 yang artinya batas maksimal unsur pengotor timbale (PB) adalah 300 part per million (PPM). Kemudian kontrak yang lain, yaitu: TINPB200, TINPB100, TINPB50, dan TIN4NINE yang artinya kandungan timah batangan adalah 99.99%. “Satuan per lot untuk pasar timah ini adalah 5 metric ton dengan pelabuhan penyerahan yang ditetapkan di Muntok, Pangkal Balam, Belitung, dan Kundur,” imbuhnya.

Total anggota bursa yang siap melakukan transaksi kontrak fisik timah batangan di bursa berjangka saat ini berjumlah 12 pelaku, yaitu PT. Timah Tbk; PT. Tambang Timah; PT. Refined Bangka Tin; PT. Mitra Stania Prima; PT. Inti Stania Prima; H CO.,LTD.(Korea); Daewoo International Corporation (Korea); Gold Matrix Resources (Singapura); Great Force Trading (Hong Kong); Noble Resources International Put Ltd. (Singapura); Purple Products Pvt. Ltd (India); danToyota Tsusho Corporation (Jepang).

Jumlah ini diharapkan terus bertambah dimasa mendatang. Indonesia merupakan produsentimah terbesar kedua di dunia dengan pangsa sebesar 21,1% dari total produksi dunia(US Geological Survey 2009). Sementara itu, Indonesia juga merupakan eksportir terbesar di dunia dengan jumlah ekspor mencapai 100,876 ton pada 2012 dengan negara tujuan ekspor,antara lain Singapura (68%), Malaysia (13%) dan China (5%).