Buruknya Persepsi Investor Terhadap Rating Indonesia

40

JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (22/5) diperkirakan melemah karena buruknya persepsi investor asing terhadap rating Indonesia. “Rupiah diperdagangkan di level . 9.740-9.760 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar analis valas PT Bank Saudara Tbk, Rully Nova di Jakarta, Selasa (21/5).

Menurut dia, tekanan terhadap rupiah masih dipicu oleh faktor eksternal. Isu utamanya masih terkait persepsi kredit rating Indonesia yang outlooknya diturunkan oleh S&P. Sebab, penilaian serupa juga akan diikuti lembaga rating Moodys yang menurunkan predikat investment grade Indonesia. Tekanan ini membuat pelaku pasar asing yang meminta yield portofolio lebih tinggi lagi dari yang ada sekarang. “Mereka juga menunggu konfirmasi terhadap penyelesaian kebijakan BBM bersubsidi. Semakin berlarut-larut maka nuansa ketidakpastian meningkat. Dan ini menganggu persepsi pelaku pasar uang,” jelas dia.

Dia menambahkan, sentimen penguatan dollar AS terhadap mayoritas mata uang dunia seiring jumlah klaim tunjangan pengangguran secara tidak terduga turun ke level terendah dalam lima tahun terakhir.  “Kondisi itu merupakan isyarat bahwa pasar kerja AS mungkin mulai membaik sehingga mengangkat nilai tukarnya,” kata dia.

Dari dalam negeri jelas dia, pelaku pasar uang masih wait and see atas ketidakpastian kebijakan harga BBM. Kondisi itu, menyebabkan para importir maupun pengusaha lainnya menyimpan valas dollar AS. Sebab, ketidakpastian harga BBM menyimpan risiko sehingga jadi tekanan negatif bagi rupiah. Apalagi, tren penguatan dollar AS cukup stabil “Jadi, pergerakan mata uang domestik seiring dengan mata uang Asia yang juga berada dalam tren melemah. Jika nilai tukar domestik menguat maka barang ekspor dari dalam negeri akan menjadi mahal harganya sehingga kalah saing dengan negara tetangga,” imbuh dia.

Karena itu, dia memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih terus berlanjut. Data-data makro yang ada saat ini belum cukup menopang pergerakan rupiah. “Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang masih tinggi membuat rupiah sulit menguat.  Namun Bank Indonesia (BI) terus menjaga rupiah,” pungkas dia.