Busana Muslim Penyumbang Terbesar Pertumbuhan Industri Kreatif

76
Ketua Pokja Industri Kreatif KEIN, Irfan Wahid bersama Ketua BEKRAF, Triawan Munaf/photo dok ipangwahid

JAKARTA-Industri busana muslim (Muslim Fashion) ternyata menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi dibidang ekonomi kreatif selain bidang kuliner.  Untuk itu, pengembangan busana muslim ini harus didukung oleh semua pemangku kebijakan. “Berdasarkan hasil pertemuan antara Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dengan Presiden Joko Widodo sebulan sekali di luar rapat Kabinet, dan terakhir juga dalam rapat terbatas tentang presentasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, ternyata salah satu sektor yang paling banyak meningkatkan pertumbuhan ekonomi terdapat di bidang industri kreatif,” kata Ketua Pokja Industri Kreatif KEIN, Irfan Wahid di Kantor KEIN Jakarta, Kamis (23/6).

Bahkan guna memaksimalkan percepatan industri kreatif dan penyusunan roadmap industri kreatif di bidang busana muslim, Kelompok Kerja (Pokja) Industri Kreatif KEIN bersama dengan Kementerian Koperasi dan UMKM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata dan Bekraf mengadakan kegiatan Focus Group Disscusion (FGD) mengenai industri busana muslim di Indonesia.

Menurut Irfan, ada dua komponen terbesar dalam industri kreatif yaitu bidang kuliner (makanan) dan fashion (busana). Namun, ternyata industri busana muslim yang menyumbang sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional. “Kita sudah melihat, industri busana muslim memang sudah berjalan dengan sangat baik, tapi akan lebih baik lagi jika kita kerjakan bersama-sama dengan semua stakeholder (pemangku kebijakan) yang tekait,” tegas Irfan yang juga putra dari KH. Sholahudin Wahid.

Dia mengaku Presiden telah menyetujui inisiasi KEIN untuk melakukan pertemuan dengan berbagai lintas kementerian guna mendisuksikan tentang industri kreatif, khususnya industri busana muslim di Indonesia. “Sebenarnya, kita juga punya bidang yang berpotensi besar yaitu industri berbasis halal. Namun sayangnya, potensi industri berbasis halal kita di dunia masih di urutan nomer sepuluh, sedangkan di urutan nomer satu adalah negara tetangga, yaitu Malasyia,” ungkap Ipang, panggilan akbrab Irfan Wahid.

Irfan melihat, Indonesia memiliki potensi luar biasa dibidang busana muslim. Satu diantaranya, Indonesia merupakan satu dari lima besar negara anggota Organisasi Kerjasama negara Islam (OKI) sebagai pengeskpor busana muslim terbesar selain Bangladesh, Turki, Maroko dan Pakistan. “Desain dan kualitas produk busana muslim Indonesia juga diakui berdaya saing global, karena mengandung unsur budaya dari batik dan tenun. Namun Indonesia saat ini juga masih menjadi negara dengan peringkat ke-lima pengkonsumsi busana muslim tingkat dunia, selaian peringkat tiga besar lainnya yaitu; Turki, Uni Emirat Arab dan Nigeria,” kata Irfan.

Saat ini ada beberapa negara yang bersiap menguasai pasar busana muslim dunia, diantaranya; Uni Emirat Arab, Korea Selatan, Malasyia, Amerika Serikat, Italia, Thailand, Jepang, Italia, inggris dan Prancis, pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah berencana menggelar promosi besar-besaran terkait rencana Indonesia menjadi kiblat busana muslim se-dunia tahun depan.”Untuk sarana promosi yang diperlukan adalah database dan katalog industri yang lengkap, dan saat ini sarana tersebut masih kurang. Padahal setiap kita melangkah tentunya harus memiliki angka atau data. Bagaimana kita akan percaya diri untuk menjadi kiblat busana muslim kalau kita tidak tahu posisi Indonesia ada dimana, sudah berapa jauh, apakah memang benar kalau Indonesia tertinggal, padahal belum tentu juga kita benar-benar tertinggal,” ujar Euis.

Kemendag jelasnya bakal memberikan fasilitas bagi pelaku industri busana muslim untuk ikut fashion show (pameran busana) baik di dalam negeri dan luar negeri. “Terakhir kemarin kita sudah bantu fasilitasi mereka ke Turki, Maroko dan Perancis,” pungkasnya.