Cagub BI Harus Sejalan Dengan Presiden

33

JAKARTA-Calon Gubernur Bank Indonesia semestinya sepaham dengan Kebijakan Presiden Joko Widodo. Oleh karena itu, sangat berbahaya cagub yang tak memahami Nawacita. “Kalau satu visi dengan presiden, ya itu tentu harus. Itu penting sekali,” kata anggota Komisi XI DPR Donny Imam Priambodo kepada wartawan di Jakarta, Senin (12/2/2018).

Disinggung soal kriteria cagub BI, anggota Fraksi Nasdem ini mengakui Bank Indonesia memang salah satu tugasnya adalah mengawasi masalah makro ekonomi. Namun harus dipahami bahwa kebijakan dari BI bisa mempengaruhi juga masalah mikronya. “Jadi saya kira harus sejalan, ini demi menjaga kepercayaan,” tambahnya.

Diakui Donny, BI juga sebuah lembaga indenpenden, namun tetap saja kebijakan bank sentral tetap harus hati-hati dan tidak boleh sembarangan. Karena itu, butuh komunikasi yang baik dengan presiden. “Bisa saja sejalan dengan Presiden, tergantung bagaimana Gubernur Bank Sentral itu membangun komunikasi dengan semua lembaga terkait,” ungkapnya.

Intinya, lanjut Dosen Teknik Elektro STT Surabaya, Gubernur BI mampu bekerjasama dan membangun kebijakan yang lebih baik. “Harusnya bisa bersinergi, karena tujuannya kan sama untuk bangsa Indonesia juga,” imbuhnya.

Disinggung soal nama-nama cagub BI, Donny mengakui barus sebatas mendengar melalui media massa. Sementara berdasarkan surat resmi belum diketahui. “Hanya saya memang dengar ada 4 calon Gubernur BI, tapi apakah sudah disampaikan ke DPR apa belum saya belum ada kabar,” terangnya seraya menyebutkan antara lain, ada petahana Agus Martowardoyo, Perry Warjiyo, Chatib Basri dan Bambang Brojonegoro.
“Apakah betul itu, tolong dicheck ulang. ”

Sebelumnya, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi, mengatakan ada empat nama calon gubernur Bank Indonesia yang telah diserahkan ke meja Presiden Joko Widodo.

Adapun empat nama itu adalah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro; mantan Menteri Keuangan periode 2013-2014, Muhammad Chatib Basri; Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo; dan Gubernur BI saat ini, Agus Martowardoyo. “Empat nama itu yang masuk,” ujar kata Sofjan di Istana Wakil Presiden, Jakarta, Jumat (9/2/2018).

Nama-nama calon tersebut juga sudah dibahas oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Namun, sampai saat ini belum diputuskan. “Sudah dibicarakan juga dengan Presiden dan Wakil Presiden. Ini sekarang kan dinilai semua. Tapi Presiden belum memutuskan,” ujar Sofjan.

Karena itu, saat ini hanya tinggal menunggu keputusan Presiden Jokowi siapa nama calon yang akan dipilih menjadi Gubernur BI yang baru. Meskipun, Agus sendiri masih punya peluang untuk menjabat satu periode lagi. “Tinggal menunggu keputusan Presiden saja. Presiden sudah tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing kandidat,” ucap dia.

Presiden Jokowi sendiri dianggap perlu memilih calon gubernur BI yang sesuai dan paham akan kondisi ketidakpastian ekonomi global saat ini. “Amerika Serikat begini sekarang, tiba-tiba (saham) New York jatuh. Amerika mau naikkan bunganya. Jadi ketidakpastiannya harus kita jaga juga jangan sampai akibatnya untuk Indonesia,” kata Sofjan.

Pertimbangan lain, Gubernur BI mendatang harus bisa menjaga kondisi moneter dalam negeri dengan baik dan tidak boleh terpengaruh tahun politik. “Kita enggak boleh terpengaruh dengan tahun politik, kondisi moneter itu harus kita jaga betul supaya ada kestabilan, itu harus dibedakan. Maka BI itu harus terpisah dengan pemerintah. Karena itu (moneter) harus dijaga,” ucap dia.

Menurut Sofyan, pemerintah juga harus mencari gubernur BI yang bisa bekerja sama dengan Menkeu karena fiskal dan moneter ini penting sekali harus bersama-sama, ditambah lagi OJK sedikit. “Itu sudah dibicarakan kelebihan dan kekurangan satu sama lain,” pungkasnya. ***eko