CBA Endus Bau Korupsi Proyek Rp 1,8 Triliun di Kemenristekdikti

CBA Endus Bau Korupsi Proyek Rp 1,8 Triliun di Kemenristekdikti

0
BERBAGI
Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi

JAKARTA-Center for Budget Analysis (CBA) menemukan dugaan penyimpangan anggaran di Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Penyimpangan ini berasal dari proyek dengan nomenklatur ‘sarana dan prasarana perguruan tinggi yang direvitaslisasi” dengan total anggaran sebesar Rp.1.800.000.000.000 di Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi menjelaskan proyek di Kemenristekdikti ini dalam bentuk pembangunan sarana dan prasarana atau bantuan laboratorium untuk perguruan tinggi yang dananya bersumber dari APBN.

Proyek ini masih dalam bentuk pagu alolasi dan program di Direktorat Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau belum dieksekusi dalam bentuk lelang sama sekali.

Namun aroma penyimpangan dari proyek ini mulai mencuat. Bahkan proyek ini mirip dengan proyel yang pernah diselidiki oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas dugaan keterlibatan  kader Partai Demokrat, M Nazaruddin.

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat ini melakukann korupsi pada proyek pengadaan pusat riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di lima perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Uchok menjelaskan, salah satu proyek ini juga sudah pernah di vonis di pengadilan tindak korupsi Surabaya atas pengadaan alat laboratorium F MIFA Universitas Negeri Malang yang didanai dari APBN2009.  “Adapun modus korupsinya,  nilai pembelian alat alat laboratorium itu lebih tinggi dibandingkan harga pokok satuan barang sehingga negara sangat dirugikan dalam proyek ini,” terangnya.

Untuk itu, Uchok meminta Menristekdikti Muhammad Nasir untuk segera menertibkan orang orang terdekat atau sekitarnya dalam “permainan” atau realisasi proyek ini. “Lebih baik dan elegan, orang dekat menteri itu mengawas proyek ini, dan bukan bermain main proyek ini,” pintanya.

Karena proyek Sarana dan prasarana perguruan tinggi yang direvitaslisasi tahun 2016 masuk dalam Kemenristekdikti hasil kerjasama yang baik dan sunyi antara “orang Senayan” di DPR dari partai orde baru dengan orang internal di Kemenristekdikti. “Dan sekali meminta kepada pak menteri, Muhammad Nasir,  pembangunan  laboratorium di perguruan tinggi sangat dibutuhkan sekali, tapi jangan ada aroma korupsi. Sebagai orang akademik atau perguruan tinggi, akan sangat malu bila terjadi penyimpangan proyek Sarana dan prasarana perguruan tinggi yg direvitaslisasi senilai Rp 1.8 Triliun,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, redaksi belum berhasil meminta konfirmasi jajaran Kemenristekdikti terhadap hasil temuan CBA ini.