Charles Simaremare: BUMN Rugi Sebaiknya Dijual

56
Anggota DPD Charles Simaremare

JAKARTA-Anggota DPD RI Charles Simaremare mendukung langkah Presiden Jokowi agar menjual atau memerger sebagian BUMN. Langkah itu mestinya diprioritaskan pada anak usaha BUMN yang merugi. “Saya kira benar juga Pak Jokowi, kalo BUMN sampai 800 unit itukan terlalu banyak, apalagi tidak semua BUMN dan anak cucunya menguntungkan,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (7/10/2017).

Namun begitu, lanjut Charles, penjualan ataupun merger BUMN harus mengikuti ketentuan Undang-Undang (UU) yang berlaku. Artinya juga harus ada kajian terlebih dahulu, tidak bisa dilakukan secara sembarang. “Ya ikuti aturan dan prosedur serta ada penelitian mendalam,” paparnya.

Kajian mendalam diperlukan, kata Charles, untuk mengetahui dampak negatif dari penjualan BUMN tersebut. Sehingga jangan sampai salah langkah.

Sejumlah BUMN rugi, kata senator asal Papua, sebaiknya memang dijual ketimbang harus dipertahankan dengan mati-matian. Apalagi kondisi BUMN itu malah justru membebani keuangan negara. “Kalau rugi terus dipertahankan, ya buat apa. Yang anehnya perusahaannya rugi, tapi gaji direksinya gak turun,” tambahnya.

Selain itu, Charles juga menyoroti masalah penunjukkan direksi dan komisaris BUMN yang dinilainya sarat dengan koncoisme. “Mestinya ada fit and propert tes secara terbuka untuk jabatan CEO BUMN. Jangan main tunjuk saja,” imbuhnya.

Seperti diketahui Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkritik BUMN memiliki anak dan cucu usaha yang total jumlahnya mencapai 800 perusahaan. Karena itu meminta sebaiknya anak dan cucu usaha itu dimerger agar BUMN lebih efisien.

Menteri BUMN Rini Soemarno sepakat terhadap hal itu. Apalagi kondisi ini sudah lama menjadi perhatiannya.
“Pak Presiden bilang, kita ada 800 perusahaan. Betul. Itu salah satu yang saya komplain sejak saya pimpin BUMN. Kok bisa banyak banget nih anak cucu cicit, punya perusahaan yang sejenis lagi,” kata Menteri BUMN Rini Soemarno di, Jakarta, Kamis (5/10/2017).

Rini menjelaskan, terciptanya jumlah anak cucu BUMN hingga sebanyak itu lantaran situasi di berbagai lokasi proyek BUMN yang memaksa didirikan perusahaan-perusahaan sejenis, contohnya Rumah Sakit dan Hotel.
“Ternyata kita punya 70 rumah sakit. Yang perusahaan-perusahaan punya sendiri. Contohnya Semen Padang, mereka buat rumah sakit di lokasi, Antam buat juga di Halmahera, dan akhirnya banyak Rumah Sakit di mana-mana. Makanya kita standarisasi kualitasnya jadi Rumah Sakit BUMN,” jelasnya.

  • Menyikapi hal tersebut, Rini sudah mengkoordinir perusahaan-perusahaan tersebut bisa disatukan. Salah satunya membuat holding Rumah Sakit BUMN. “Justru sekarang kita konsolidasikan bagaimana lebih efisen pelayanannya dan berikan standar layanan yang baik,” pungkasnya. ***