Dampak Brexit Terhadap Ekonomi Indonesia Minim

27
Direktur Pengembangan Bisnis MAMI Putut Andanawarih/tribunnews

JAKARTA-Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengaku tetap optimis dengan kondisi perekonomian Indonesia memasuki paruh kedua 2016. Hal ini ditopang program-program infrastruktur yang berjalan lancar, serta ditopang konsumsi rumah tangga yang stabil, inflasi yang terjaga dan pelonggaran moneter. Selain itu, disetujuinya skema pengampunan pajak yang telah lama ditunggu, menjadi katalis positif.  “Lancarnya program infrastruktur, serta ditopang  dengan konsumsi rumah tangga yang stabil, inflasi yang terjaga – membuat Bank Indonesia (BI) dapat leluasa melakukan pelonggaran moneter dan meningkatkan stimulus.  Katalis-katalis ini akan menopang baik pasar saham maupun pasar obligasi Indonesia,” ujar Direktur Pengembangan Bisnis MAMI Putut Andanawarih di Jakarta, Kamis (14/7).

Dia mengatakan di akhir kuartal 2-2016, fokus tertuju pada Brexit serta dampaknya bagi perekonomian dan pasar finansial di masing-masing negara. Belum pernah ada peristiwa yang menyerupai Brexit yang dapat dijadikan tolok ukur.    “Kami menilai kondisi ini akan memicu volatilitas jangka pendek, dan berdasarkan pengalaman masa lalu, ketika volatilitas meningkat, permintaan untuk aset safe haven juga akan meningkat,” ujarnya.

Menurutnya, perdagangan Britania Raya (UK) dengan Uni Eropa mencapai  45% dari total perdagangannya, sehingga dampak  Brexit akan lebih terasa untuk UK sendiri dibandingkan Uni Eropa.

Untuk Indonesia sendiri, eksposur perdagangan ke Uni Eropa tidak besar (ekspor sebesar 3% dari PDB atau 10% dari total ekspor Indonesia). Dari  sisi tersebut, dampak Brexit terhadap perekonomian Indonesia cenderung minim.   “Pada akhirnya investor akan kembali kepada fundamental, mari  kita fokus pada hal ini,” terangnya.

Dia menjelaskan, PDB kuartal 1-2016 (tahunan) sebesar 4.92% – lebih rendah dibandingkan kuartal 4-2015 sebesar 5.04% . Namun jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar 4.71%.

Pemerintah mengimplementasikan skala prioritas: belanja infrastruktur meningkat pesat, yaitu naik 3 kali lipat dibandingkan periode yang sama di 2015, sementara belanja non infrastruktur sebisa mungkin ditekan.    Paruh kedua 2016, inflasi yang terjaga, dukungan kebijakan moneter longgar diharapkan tetap menopang konsumsi swasta,  yang menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi.

Di bulan Mei terjadi surplus perdagangan sebesar USD375.6 juta.  Secara bulanan, baik ekspor maupun impor sama-sama meningkat dibanding bulan April.  Kumulatif sepanjang tahun berjalan sampai bulan Mei 2016 Indonesia menikmati surplus perdagangan sebesar USD2.7 miliar (ekspor USD56.59 miliar vs. impor USD53.89 miliar).    Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ekspor nonmigas tetap mendominasi kisaran 90% dari total ekspor.  “Dan selama tahun berjalan 2016, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Singapura serta India berkontribusi 46,1% dari keseluruhan negara tujuan ekspor nonmigas.  Di lain pihak, keseluruhan Uni Eropa yang terdiri dari 27 negara hanya berkontribusi 11.3%,” pungkasnya.