Danamon Raih Laba Bersih Rp 1,7 Triliun

58
Muliadi Rahardja, Wakil Direktur Utama; Sng Seow Wah, Direktur Utama; Vera Eve Lim, Direktur dan CFO dan Herry Hykmanto, Direktur Danamon Syariah

JAKARTA-PT Bank Danamon Indonesia, Tbk. (“Danamon”) mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp 1,7 triliun pada semester pertama 2016 atau tumbuh 38% dibandingkan Rp 1,3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. “Inisiatif-inisiatif yang kami implementasi tahun lalu mulai menunjukkan hasil. Hal ini tercermin dalam pertumbuhan laba bersih. Hasil ini merupakan bukti nyata dari upaya Danamon dalam membangun pondasi kuat untuk pertumbuhan lebih lanjut, sejalan dengan komitmen kami untuk meneruskan kualitas layanan yang baik kepada nasabah pada ulang tahunnya yang ke-60,” kata Chief Financial Officer dan Direktur Danamon, Vera Eve Lim di Jakarta, Selasa (26/7).

Vera menambahkan Danamon sedang memperkuat aksesibilitas layanan dan variasi produk. “Jaringan sales and distribution kami mulai terbentuk dan nasabah sudah mulai merasakan manfaat dari layanan terintegrasi yang memenuhi kebutuhan keuangan mereka,” tambah Vera.

Peningkatan dalam kualitas layanan tercermin dari pencapaian Danamon yang menerima predikat peringkat pertama untuk Service Quality berdasarkan survei Roy Morgan dan peringkat ketiga untuk layanan di Cabang pada survei Bank Service Excellence Monitor (BSEM) yang dilaksanakan Marketing Research Indonesia (MRI) dan Infobank Institute.

Dia menjelaskan Laba Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) tumbuh 15% menjadi Rp 4,6 triliun di semester pertama tahun 2016 dibandingkan setahun sebelumnya. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) di semester pertama tahun 2016 tercatat sebesar 48,5% dibandingkan 54,7% di semester pertama tahun 2015. Hal ini didorong oleh peningkatan efisiensi yang berkelanjutan. Biaya operasional di semester pertama tahun 2016 turun 7% dibandingkan satu tahun sebelumnya menjadi Rp 4,3 triliun.

Pada akhir semester pertama 2016, kredit pada segmen UKM tumbuh 1% menjadi Rp 23,5 triliun dari Rp 23,2 triliun setahun sebelumnya. Namun jika dihitung dari awal tahun atau year-to-date, kredit UKM tumbuh 5% dari Rp 22,4 triliun. Kredit pada segmen perbankan korporasi tumbuh 1% menjadi Rp 17,9 triliun dan kredit kepada segmen komersial turun 5% menjadi Rp 15,2 triliun. Sementara itu, kredit syariah yang sebagian besar merupakan bagian dari kredit untuk segmen UKM dan komersial, tumbuh 6,9% menjadi Rp 3,3 triliun.

Di tengah kondisi kinerja ekspor dan impor industri yang menurun, bisnis Trade Finance Danamon mencetak kinerja yang baik. Hal ini didukung oleh meningkatnya portofolio marketable securities terkait trade finance menjadi Rp 2,9 triliun di semester pertama tahun 2016. Instrumen ini merupakan surat berharga jangka pendek yang dikeluarkan oleh nasabah Korporasi dan Komersial untuk kebutuhan pembiayaan trade finance. Secara total, portofolio untuk segmen Korporasi dan Komersial termasuk marketable securities terkait trade finance tumbuh 7% menjadi Rp 36 triliun.

Kredit kepada usaha mikro melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) tercatat sebesar Rp 12,5 triliun atau turun 28% dari Rp 17,4 triliun di semester pertama tahun 2015.

Secara keseluruhan, kredit Danamon turun 8% menjadi Rp 124,9 triliun pada akhir semester pertama tahun 2016 dari Rp 136,2 triliun pada periode yang sama tahun lalu.