Dari Fatima, Portugal: Doa Perdamaian Untuk Indonesia

26
Para peziarah asal Indonesia berfoto bersama di Kapel Penampakan, Fatima, Portugal setelah misa bersama untuk perdamaian Indonesia, Selasa (29/11)

PORTUGAL-Serombongan peziarah yang berasal dari berbagai kota di Indonesia berdoa bersama dengan ujub memohon perdamaian bagi tanah air. Doa bersama dalam bentuk misa itu dipimpin oleh Romo Yustinus Dwi Karyanto Pr dan diselenggarakan di Kapel Penampakan Bunda Maria di Fatima, Portugal, Selasa (29/11).

Penyelenggara dari JB Tour, Willy Djohary menjelaskan kota Fatima, Portugal adalah tempat terakhir rombongan yang berjumlah 49 orang itu berkunjung. Mereka mengawali peziarahan dengan mengikuti misa selesainya tahun Kerahiman Illahi dengan penutupan Porta Sancta (Pintu Suci) di Basilika St.Petrus, Vatikan, Italia oleh Paus Fransiskus, pada Minggu (20/11).

Di Fatima Portugal ini secara khusus para peziarah mempersembahkan misa untuk memohon perdamaian di Indonesia dan berharap bangsa Indonesia tetap bersatu seperti sedia kala tanpa terpecah karena berbagai kepentingan. Didoakan pula agar para pemimpin bangsa diberi roh kebijkasanaan dalam memimpin bangsa dan negara Indonesia. “Bagi umat Katolik, Fatima adalah salah satu tujuan utama peziarahan rohani. Karena di kota kecil di sebelah utara kota Lisbon, Portugal ini  pada tahun 1917, diyakini umat katolik, Bunda Maria menampakkan diri kepada ketiga penggembala kecil yakni Fransisco Marto (9 tahun), Yasinta Marto (7 tahun) dan Lucia de Jesus (10 tahun) sebanyak enam kali. Kepada ketiga anak itu, pesan perdamaian bagi dunia dititipkan oleh Maria,” ujar Willy Djohary.

Sebanyak enam kali Maria  menampakan diri kepada ketiga anak tersebut. Penampakan terjadi selalu pada tanggal 13 pada bulan yakni diawali pada 13 Mei 1917 sampai 13 Oktober 1917. Hanya pada Agustus 1917 penampakan terjadi pada 19 Agustus karena pada tanggal 13 Agustus ketiga anak itu ditahan oleh penguasa setempat.

Selain karena penampakan itu sendiri, Fatima juga menjadi terkenal karena adanya rahasia (ramalan) Fatima yang disampaikan Maria kepada ketika anak tersebut. Rahasia ketiga dipegang erat oleh Lucia dan baru diberikan kepada Paus Paulus VI pada saat berziarah ke Fatima pada tahun 1967 meski tidak diumumkan isinya. Ketiga rahasia itu berisi tentang Perang Dunia, Kehancuran Komunisme dan Terbunuhnya Paus. Dua ramalan sudah terjadi dan upaya pembunuhan Paus Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1981 ditafsirkan sebagai pemenuhan ketiga rahasia tersebut. “Yang dapat kami lakukan dari tempat suci ini adalah, mendoakan bangsa, para pemimpin, tanah air dan negera Indonesia agar terhindar dari segala bentuk perpecahan, konflik saudara dan tidak lupa yang paling penting adalah memohon perdamaian bagi bangsa Indonesia,” ujar Willy Djohary.

Menurut Willy yang telah menjadi pemimpin ziarah ke luar negeri lebih dari 100 kali, ziarah kali ini memang memiliki arti penting. Selain karena selesainya Tahun Kerahiman yang ditandai dengan penutupan Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan dan juga kunjungan para peziarah ke Fatima, Portugal itu sangat penting karena untuk berdoa bagi perdamaian di Indonesia. Menurutnya, para peziarah antara lain datang dari Menado, Palu, Makasar, Palembang, Jakarta, Surabaya, Sukabumi, Tangerang, Yogyakarta dan Pemalang.