Darmadi : Banyak Ritel Ambruk Karena Mismanagemen

22

JAKARTA-Ambruknya sejumlah ritel modern di Indonesia kerap kerap dikaitkan dengan melemahnya daya beli masyarakat. Padahal itu belum tentu, namun sejumlah kalangan menduga lebih pada kesalahan managemen. “Banyak penyebab tutup ritel diantaranya disebabkan adanya mismanagement. Dimana biaya operasional yang terlalu besar, tidak mampu membaca arah bisnis dan tidak mampu menerapkan strategi bisnis yang tepat,” kata anggota Komisi VI DPR Darmadi Durianto saat diskusi bertajuk “Sejumlah Retailer Berguguran. Apakah Ini Akhir Dari Industri Ritel Konvensional’ yang digelar Pas FM Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Politisi PDI Perjuangan yang juga dikenal sebagai pakar pemasaran itu membantah daya beli sebagai biang kerok tutupnya sektor ritel.
“Mengenai daya beli turun, belum bisa disimpulkan secara ilmiah, harus disertai riset behavioral insight yang mendalam,” ujarnya.

Menurut Darmadi, pada pada Triwulan ke-3 dana pihak ketiga tumbuh 11.69%, sedangkan pertumbuhan kredit 7.86%. “Untuk menyikapi fenomena ini harus menggunakan helicopter view agar dapat meneropongnya dari semua sisi kenapa ritel berguguran,” katanya.

Intinya adalah bagaimana melihat suatu hal dari sisi yang lebih general, lanjut Darmadi, seperti melihat dari atas helikopter. Konsep ini dipakai agar kita melihat sebuah permasalahan secara sistemik. “Observasi dahulu suatu hal secara luas dan menyeluruh,” sambung legislator asal DKI Jakarta.

Mengenai perubahan perilaku konsumen, kata dia, harus melakukan pendekatan
perilaku ekonomi (behavioral economy) untuk mengetahui apakah benar terjadi shifting ke experience economy atau ke leisure economy seperti banyak yang dianalisis oleh pengamat ekonomi dan bisnis.
“Perlu kajian ilmiah untuk menyebutkan bahwa terjadi pergeseran perilaku konsumen menuju ke experience economy,”ujar Komite Perekonomian DPP PDI Perjuangan.

Dikatakannya, ada kecenderungan juga sekarang banyak yang lebih memilih menabung, karena ada muncul persepsi ketakutan bahwa kehidupan kedepannya akan lebih berat dari saat ini,” ujar Bendahara Megawati Institute ini.