Defisit Transaksi Berjalan Turun US$0,4 Miliar

28
photo ilustrasi

JAKARTA-Defisit transaksi berjalan triwulan I 2016 menurun, terutama didorong oleh meningkatnya surplus neraca perdagangan. Defisit transaksi berjalan turun dari US$5,1 miliar (2,4% PDB) pada triwulan IV 2015 menjadi US$4,7 miliar (2,1% PDB) pada triwulan I 2016.

Direktur Eksekutif  Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menjelaskan penurunan defisit transaksi berjalan terutama ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat sebagai dampak dari penurunan impor nonmigas (-5,2% qtq) yang lebih besar dari penurunan ekspor nonmigas (-2,6% qtq).

Meskipun secara keseluruhan menurun, kinerja ekspor beberapa komoditas nonmigas mulai menunjukkan perbaikan. Di sisi migas, neraca perdagangan migas membaik seiring dengan menyusutnya impor minyak karena harga minyak dunia yang lebih rendah. “Perbaikan kinerja transaksi berjalan juga disumbang oleh berkurangnya defisit neraca jasa mengikuti turunnya impor barang dan turunnya pengeluaran wisatawan nasional selama berkunjung ke luar negeri,” ujarnya.

Sementara itu jelasnya, defisit neraca pendapatan primer mengalami peningkatan terkait pola pembayaran bunga surat utang pemerintah.

Transaksi modal dan finansial triwulan I 2016 mencatat surplus seiring dengan membaiknya prospek ekonomi domestik dan berlanjutnya pelonggaran kebijakan moneter di negara-negara maju. Surplus transaksi modal dan finansial pada triwulan I 2016 mencapai US$4,2 miliar, terutama ditopang oleh aliran masuk modal investasi portofolio dan investasi langsung. Aliran masuk modal investasi portofolio neto terus meningkat dan mencapai US$4,4 miliar untuk keseluruhan triwulan I 2016. Aliran masuk modal investasi portofolio tersebut bersumber dari penerbitan sukuk global pemerintah, surat berharga negara berdenominasi rupiah, dan saham.

Dia menjelaskan, investasi langsung juga tercatat surplus sebesar US$2,2 miliar, meski lebih kecil dibandingkan dengan surplus pada triwulan IV 2015 sebesar US$2,8 miliar. Secara total, surplus transaksi modal dan finansial triwulan I 2016 lebih rendah dibandingkan dengan surplus triwulan sebelumnya. Hal itu terutama karena investasi lainnya yang mengalami defisit sebagai dampak dari masih rendahnya penarikan pinjaman luar negeri swasta.

Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I 2016 mengalami defisit seiring dengan surplus transaksi modal dan finansial yang lebih rendah. Defisit NPI tercatat sebesar US$0,3 miliar. Adapun posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2016 tercatat sebesar US$107,5 miliar. Jumlah cadangan devisa ini cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 7,7 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Ke depan, BI akan terus mewaspadai risiko eksternal dan domestik yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan. “BI meyakini kinerja NPI ke depan akan semakin baik, didukung oleh bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta penguatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong percepatan reformasi struktural, termasuk implementasi berbagai paket-paket kebijakan pemerintah guna meningkatkan iklim investasi dan daya saing ekonomi,” pungkasnya.