Demokrasi Musyawarah dan Mufakat Telah Ditinggalkan

Demokrasi Musyawarah dan Mufakat Telah Ditinggalkan

0
BERBAGI

JAKARTA-Mahasiswa diharapkan mampu memahami masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Apalagi sistem demokrasi liberal justru menimbulkan masalah korupsi. “Saat ini, Indonesia sudah menyimpang dari cita-cita pendiri bangsa. Padahal UUD 1945 sangat jelas, yaitu untuk kemakmuran bangsanya, untuk kesejahteraan dan keadilan rakyatnya,” kata Rektor Universitas Bung Karno Drs. Soenarto, MBA. MM di Jakarta (14/2/2016).

Menurut Soenarto, pihaknya menyesalkan demokrasi telah lari dari yang dicita-citakan para founding fathers. Dimana setiap keputusan menggunakan sistem voting. “Hal ini tidak sesuai apa yang ada dalam Pancasila kita, yaitu demokrasi musyawarah mufakat,” ujarnya.

Dengan tegas, kata Soenarto, dia menyampaikan kembali kepada UUD 1945 sebagai resep untuk mengembalikan jati diri bangsa guna menyelamatkan bangsa indonesia dari keterpurukan saat ini.

Soenarto juga menyinggung masalah-masalah persoalan bangsa yang tak kunjung usai, seperti korupsi yang makin membahayakan bangsa hingga penanganan kasus-kasus besar seperti BLBI, Pajak, dan freeport.

Sementara itu Sekretaris Jenderal HMS (Hidupkan Masyarakat Sejahtera) Hardjuno Wiwoho meminta mahasiswa harus kuat mental dan terpenting bisa menjaga keutuhan NKRI, tidak kemudian rame-rame menjadi para koruptor. “Jangan sampai mahasiswa menjadi contoh buruk. Semaksimal mungkin kita jaga keutuhan NKRI supaya intervensi dari kapitalis yang masuk kita waspada,” jelasnya

Dikatakan Hardjuno, kondisi mahasiswa dan pemuda yang dulu kritis dan lantang terhadap kebijakan pemerintah malah menjadi pesakitan KPK setelah menjadi sesuatu. Hal ini sangat disayangkan.
“Banyak yang dulu kritis malah menjadi pesakitan di KPK seperti, Anas Urbaningrum, Wa Ode, Angelia, yang sekarang sudah menjadi pesakitan di KPK.

Hardjuno mendorong mahasiswa harus melangkah kedepan guna menjadi seseorang. Bukan beramai-ramai untuk menjadi Koruptor.

Untuk itu, Hardjuno mengingatkan kembali kepada para mahasisa untuk menjadi agent of control yang bisa diperhitungkan.
“Jangan sampai mahasiswa menjadi bagian dari kelompok yang mudah dibeli, harus kuat mental dan pada posisinya masing-masing bahwa musuh kita bersama adalah koruptor, musuh kita bersama adalah kapitalis dan liberalisasi,” pungkasnya. **aec