Dongkrak Ekspor, Pemerintah Genjot Sektor Unggulan

8

JAKARTA-Pemerintah akan terus mendorong perkembangan sector otomotif guna mendongkrak pertumbuhan ekspor Indonesia. Pada Januari-September 2018, jumlah ekspor mobil utuh (completely built up/CBU) mencapai 187.752 unit. Angkanya naik 10,4 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, ekspor sepeda motor dari Indonesia, pada 2018 naik melejit 46,3% menjadi 575.000 unit.

Menteri Perindustrian (Menperin), Airlangga Hartarto memperkirakan ekspor sektor otomotif jumlahnya terus naik seiring rencana diterapkannya kebijakan fiskal, seperti harmonisasi tarif dan revisi besaran Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).

“Untuk mendorong ekspor otomotif, pemerintah sedang membahas pajak PPnBM. Kalau selesai dan begitu perjanjian dagang dengan Australia rampung, bisa ekspor ke sana,” jelas Airlangga.

Menurutnya, pertumbuhan ekspor Indonesia juga tak lepas dari peran sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Pada Januari-Oktober 2018, jumlah ekspornya tembus hingga USD11,12 miliar atau naik 7,1 persen dari tahun sebelumnya.

“Dan pada 2019, ekspor TPT diharapkan bisa mencapai USD 15 miliar dan menyerap 3,11 juta tenaga kerja,” ungkapnya.

Bahkan, melalui implementasi industri 4.0, di sektor makanan dan minuman olahan diharapkan bisa meningkatkan ekspor hingga empat kali lipat menjadi USD50 miliar pada 2025, dibandingkan estimasi 2018 sebesar USD 12,65 miliar.

Pada tahun 2030, Indonesia ditargetkan menjadi lima besar eksportir makanan dan minuman global.

“Untuk industri elektronika, kemarin perusahaan di Batam, PT Sat Nusapersada melakukan ekspor router wifi ke Amerika Serikat. Ini merupakan hasil kerja sama dengan Pegatron, yang termasuk dalam 500 perusahaan global versi Fortune dan vendor Apple setelah Foxconn,” papar Menperin.

Dari investasi Rp300 miliar, potensi nilai ekspornya akan mencapai USD600 juta per tahun.

Eskpor perdana router wifi yang dibuat PT Sat Nusapersada di Batam menjadi bagian awal dari realisasi kerja sama  Pegatron dan PT. Sat Nusapersada, dan produksi  penuh ditargetkan terealisasi pada pertengahan 2019.

“Kami sangat mengapresiasi dan kami melihat lokal konten. Apabila lokal kontennya kami dorong terus, penghematan devisanya itu semakin meningkat,” tutur Airlangga.

Sementara itu, pada periode Januari-November 2018, ekspor perhiasan mencapai USD1,88 miliar. Tujuan ekspor perhiasan dari Indonesia, antara lain ke negara Singapura, Hongkong, Amerika Serikat, Jepang, Uni Emirat Arab dan beberapa negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Denmark dan Swedia.

Selanjutnya, periode Januari-November 2018, ekspor ikan dan kepiting olahan masing-masing tercatat senilai USD408,04 juta atau naik 13,84 persen secara tahunan dan senilai USD103,28 juta atau naik 169,90 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor buah dan sayur diolah atau diawetkan tercatat senilai USD176,95 juta sepanjang 11 bulan pada tahun lalu.

“Dalam jangka pendek, Kemenperin akan mendorong peningkatan ekspor di sektor agro, yakni produk-produk hortikultura, karena ada nilai tambah lebih. Misalnya, industri buah kaleng, hingga pisang cavendish, bahkan satu dari lima nanas di dunia dari Indonesia. Ini salah satu quick win-nya untuk menggenjot ekspor,” paparnya.

Kinerja positif ditunjukkan pula dari industri furnitur, pada periode Januari-Oktober 2018, neraca perdagangan produk furnitur nasional surplus sebesar USD99,1 juta, dengan nilai ekspor menembus hingga USD 1,4 miliar.

“Capaiannya mengalami kenaikan 4,83 persen dari periode yang sama pada tahun 2017,” imbuhnya.

Airlangga menjelaskan, aktivitas industri senantiasa konsisten memberikan efek berantai yang luas bagi perekonomian baik di daerah maupun nasional. Misalnya, peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa negara. Hal ini tidak terlepas dari peran peningkatan investasi sektor manufaktur.

“Bahkan, dengan industri 4.0, akan mewujudkan pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030. Selain itu, diiringi dengan pertumbuhan ekonomi 1-2 persen,” ungkapnya.