Donny: Mata Uang Renminbi Belum Diterima Dunia

53
fraksinasdem.org

JAKARTA-Kalangan DPR masih ragu penggunaan mata uang China, Renminbi (Yuan) dalam transaksi perdagangan internasional. Alasannya dunia masih kuat menggunakan dolar AS sebagai standar perdagangan dunia. “Ya, mungkin yang dimaksud Presiden Jokowi itu jika berdagang dengan China. Tapi kalau berdagang dengan negara lain, ya masih pakai dolar AS,” kata anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Nasdem, Donny Imam Priambodo kepada wartawan di Jakarta, Kamis (8/12/2016).

Menurut Donny, penggunaan Renminbi saat ini masih dalam transaksi terbatas. Kalau dunia sudah menerima Renminbi, maka tidak ada masalah. “Memang hak Indonesia menggunakan mata uang apa saja, tapi masalahnya kurs yang dipakai berdagang masih tergantung dengan negara mana yang jadi mitra dagang,” tambahnya.

Saat ini, kata legislator dari Dapil III Jawa Tengah, global masih menggunakan dolar sebagai mata uang dunia. Buktinya IMF dan World Bank belum merekomendasikan Renminbi. “Lembaga keuangan dunia itu saja belum meresmikan Yuan jadi salah satu mata uang dunia. Artinya dunia belum mau menggunakan Yuan,” jelasnya.

Namun begitu, lanjut Donny, bagi Indonesia sebenarnya sah-sah saja transaksi menggunakan Renmmbi dalam rangka menjaga kestabilan nilai kurs rupiah. Karena memang mayoritas perdagangan bilateral kedua negara ini lebih banyak ke China. “Jangan lupa bahwa semua putusan pemerintah itu mengacu pada situasi geopolitik yang ada. Namun jangan sampai sesuatu yang bisa diimplementasikan justru berbalik arah. Bisa jadi transaksi menggunakan Yuan, namun jangan sampai akhirnya malah bermasalah,” imbuhnya.

Seperti diketahui kemarin, Presiden Joko Widodo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat saat ini tidak bisa lagi dijadikan patokan untuk mengukur ekonomi Indonesia. Bahkan meminta masyarakat juga mengukur nilai tukar rupiah dengan mata uang negara lain, seperti yuan renminbi (China).

Presiden Jokowi mengatakan, pasca-terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, mata uang berbagai negara termasuk Indonesia mengalami pelemahan terhadap dollar AS.
Namun, Jokowi menilai, melemahnya nilai tukar tersebut harusnya tidak menjadi kekhawatiran besar. “Menurut saya, kurs rupiah dan dollar bukan lagi tolok ukur yang tepat,” ungkapnya

Sebab, lanjut dia, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat saat ini tidak begitu signifikan, hanya 10 persen. “Artinya, kurs rupiah-dollar semakin tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia, tetapi semakin mencerminkan kebijakan ekonomi AS yang saya sampaikan jalan sendiri tadi,” katanya. **