DPR: Sasaran Hoak Menciptakan Keresahan

28

BOJONEGORO-Maraknya berita-berita bohong atau yang dikenal dengan sebutan ‘Hoax’ akhir-akhir ini dianggap sudah sangat meresahkan. Bahkan, karena hoax itu pula banyak terjadi selisih paham hingga konflik yang meluas di tengah-tengah masyarakat saat ini.

Oleh sebab itu, Wakil Ketua Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Satya Widya Yudha mewanti-wanti agar masyarakat saat ini lebih hati-hati dan lebih bijak dalam menerima arus informasi berita yang beredar.

“Saya pesan kepada ibu-ibu semua, hati-hati dan selalu cek ricek dalam menerima berita atau kabar dari media, khususnya dari media sosial. Jangan sampai kita semua menjadi korban hoax yang meresahkan masyarakat,” papar SW Yudha –sapaan akrabnya di depan ratusan ibu-ibu dalam Seminar Merajut Nusantara dengan Tema ‘Waspada Berita Hoax 2019’ di Hotel Aston, Bojonegoro, Sabtu (9/3/2019).

Kegiatan yang digagas Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Indonesia (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI tersebut merupakan rangkaian dari Sosialisasi Redisain USO tahun 2019 di sejumlah daerah.

Hadir pula sebagai pembicara antara lain Ahmad Jauhari Direktur Keuangan Bakti serta Tri Soekarno Agung yang tampil sebagai pengamat media sosial.

Lebih lanjut, SW Yudha meminta kepada masyarakat untuk lebih bijak dan lebih cerdas dalam membaca berita di media. Sebab, sasaran berita hoax adalah menciptakan keresahan di masyarakat sehingga bisa mengganggu stabilitas nasional.

“Ibu-ibu rumah tangga nih yang sering dijadikan sasaran berita hoax, karena itu harus lebih bijak dan cerdas,” pesan SW Yudha yang juga calon anggota DPR RI dari Dapil Jatim IX (Tuban dan Bojonegoro).

Sementara itu, Ahmad Juhari dari Bakti juga berharap agar masyarakat semakin waspada dalam menerima berita. “Waspada hoax karena tahun ini adalah tahun politik,” imbuhnya.

“Jadi ingat ya ibu-ibu, hoax ini banyak mudaratnya. Jangan ditelan mentah-mentah, supaya kita tidak ikut menanggung dosa. Hoax harus kita lawan dengan berita fakta dan data,” pungkas Tri Soekarno Agung, pengamat medsos. ***