Duet Djarot-Teguh Mulai Dibicarakan

Duet Djarot-Teguh Mulai Dibicarakan

0
BERBAGI
Teguh Santosa dan Djarot Saiful Hidayat

JAKARTA-Memasuki akhir Mei lantai bursa pemilihan gubernur DKI Jakarta semakin hangat. Nama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat semakin gencar digadang-gadang untuk tampil menantang Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Dorongan agar Djarot maju kembali disampaikan dalam Dialog Masa Depan Jakarta yang digelar di Pempek Kita, kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat siang (27/5).

Selain Djarot, pembicara lain dalam dialog itu adalah Pemimpin Umum Kantor Berita Politik RMOL Teguh Santosa, Ketua Dewan Direktur Sabang Merauke Circle Syahganda Nainggolan dan aktivis kebudayaan Geisz Chalifah.

Adapun tuan rumah Bursah Zarnubi menjadi moderator dialog yang dihadiri puluhan aktivis gerakan lintas kelompok dan angkatan itu.

Dalam dialog itu berkembang pikiran di kalangan peserta agar Djarot berpasangan dengan Teguh yang juga menyatakan siap mengikuti proses pemilihan gubernur DKI. “Untuk menghadapi Ahok, Mas Djarot paling pas berpasangan dengan Bang Teguh,” kata Syahganda disambut tepuk tangan peserta dialog.

Djarot menjadi pembicara pertama. Mantan walikota Blitat itu menyampaikan pesan perlunya pemimpin memperlihatkan keteladanan dan ketegasan dalam menjalankan tugas. “Tegas tidak sama dengan berkata-kata kasar,” ujarnya.

Djarot juga menyampaikan bahwa dirinya ditugaskan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk mengawal proses pembangunan Jakarta dan menjaga kondusifitas ibukota. “Jakarta adalah barometer politik Indonesia. Bila terjadi masalah yang serius disini, bisa menjalar ke daerah lain. Tugas kami adalah memastikan bahwa Jakarta tetap kondusif,” kata Djarot lagi.

Sementara Teguh menilai ketidakmampuan pemerintah berpihak kepada masyarakat marginal karena amandemen yang dilakukan terhadap UUD 1945 telah mengubah karakter konstitusi menjadi proneoliberalisme dan pasar. “Konsekuensinya, negara hanya menjadi penyedia aturan yang cenderung pasif. Dalam pertarungan bebas rakyat kecil pun dikalahkan dan tidak diberi perlindungan yang memadai. Penggusuran yang serampangan itu salah satu contohnya,” ujar Teguh yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.