Eki Pitung: Saya Ingin Membangun Jakarta Yang Paripurna

119
Calon Gubernur DKI Jakarta, Eki Pitung

Sosok pemuda bersahaja Muhammad Rifky atau yang akrab dipanggil Eki Pitung mungkin tidak sekondang Basuki Tjahja Purnama (Ahok), Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno ataupun Ahmad Dani. Namun kini,  namanya mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Cucu jawara Betawi ini mendadak tenar paska secara resmi mendeklarikan diri sebagai calon gubernur DKI Jakarta.

Motivasinya tak lain karena rasa cintanya terhadap kampung halamannya, disamping membangun kota Jakarta lebih baik lagi. Tokoh pemuda Betawi kelahiran Kampung Rawa Belong ini sudah mendapat dukungan dari 25 ribu hingga 30 ribu warga DKI untuk maju dari jalur Independen.

Namanya mungkin tidak masuk dalam sigi lembaga survei yang bejibun di negeri ini. Tapi janganlah mengangggap enteng seseorang di negeri yang memiliki tradisi politik yang ‘menyimpang’ dari teori apapun. Seseorang yang tidak pernah diperhitungkan bisa tiba-tiba melejit dan berkuasa. Tapi sebaliknya orang yang memiliki tingkat popularitas tinggi dan memiliki kapital tak terbatas bisa  dengan tiba-tiba terpeleset dan jatuh.

Inilah rupanya yang dipegang oleh seseorang yang wajahnya tidak terlalu banyak tampil di muka publik tetapi banyak berkiprah sebagai aktivis di belakang layar.

Di jagat politik nasional, namanya belum terlalu tenar. Namun pemuda ini sangat populer di kalangan aktivis dan pembela hak-hak masyarakat yang terpinggirkan.

Titimangsa 11 Maret 2016 menjadi tonggak sejarah bagi Eki Pitung yang mendeklarasikan sebagai bakal calon gubernur DKI Jakarta. Dia memilih Pendopo Masjid Pitung, Marunda, Cilincing Jakarta Utara sebagai tempat deklarasi. Selain memiliki nilai hostoris tinggi, Masjid Pitung menyimpan nilai-nilai sakral keagamaan.

Sebagai warga Betawi, Eki Pitung terpangggil tidak hanya ingin memperbaiki nasib warga Betawi tetapi yang utama adalah membangun Jakarta yang paripurna, tidak parsial dan tidak pilih kasih. “Kenapa saya memilih tanggal dan bulan itu? Tentu karena sarat dengan makna. Itu adalah peristiwa sangat bersejarah, sebuah pergerakan dan juga peralihan. Sebelas Maret juga  bisa disingkat Semar. Tokoh pewayangan yang bijak bestari,” ujarnya berfilsafat.

Pria yang kerap berpeci merah ini mengaku pendeklarasiannya yang digelar di Rumah si Pitung yang legendaris, tidaklah bisa diangggap terlambat.  Hal ini merupakan bagian dari skenario yang dibuatnya. “Untuk apa kita terburu-buru kalau hanya akan menjadi bulan-bulanan kampanye negatif,” katanya.

“Tapi saya pun percaya lama-lama media pun akan mencapai titik balik karena jenuh sendiri dengan agenda pemberitaan yang tidak berimbang seperti sekarang  ini. Saya percaya itu.”

Eki Pitung membantah, maju sebagai bakal calon gubenur hanya akal-akalan untuk mendulang popularitas. Apalagi ada yang menilai pilkada DKI Jakarta dianggap sebagai panggung untuk mengangkat nama untuk tujuan politik tertentu. “Jauhkan pikiran itu. Saya maju sebagai bakal calon karena saya punya niat, punya konsep dan juga punya keberanian,” ucap cucu jawara Betawi yang legendaris, si Pitung.

“Ahok itu dianggap sakti, Yusril dinilai hebat. Nah, saya ini adalah berani. Untuk apa sakti atau hebat kalau tidak berani. Buktinya sampai kini Ahok dan juga Yusril belum juga berani mendeklarasikan diri menjadi calon gubernur,” tambah Eki Pitung memberi alasan.

Menurutnya, sangat tidak tahu diri kalau dirinya mencalonkan sebagai gubernur di Papua atau di  Semarang. Tapi sebaliknya kalau Eki Pitung mencalonkan diri di Jakarta, keterlaluan bila ada yang menilainya tidak pantas. “Ini tanah leluhur gue. Ini daerah gue. Ini daerah permainan gue.  Boleh dong gue berkiprah di wilayah sendiri,” ujarnya bela diri.

Karena itu, pria berusia 45 tahun ini sangat senang bila calon-calon lainnya pada sibuk mencitrakan dirinya sebagai orang Jakarta dan bahkan merasa sebagai pembela orang Betawi. Karena saking semangatnya, bisa-bisa terpleset dan keseleo lidah. “Bagi saya Betawi itu tidak perlu dibela tetapi hanya perlu afirmasi dari pemerintah seperti halnya suku Aborigin di Australia,” ujarnya.

“Buktinya sudah ada kandidat yang mulai terpleset dan mengatakan orang Betawi itu bodoh,” Eki Pitung mencontohkan.

Eki Pitung memang lebih banyak di lapangan daripada mencitrakan diri di media atau televisi. Eki Pitung percaya dengan konsep cangkang pisang. “Lebih banyak tampil dan tidak mawas diri bisa-bisa malah kepleset cangkang pisang seperti di kemeriahan atau di acara kondangan. Sudah begitu cangkang pisangnya yang sudah mateng dan kucel sehingga licin banget,” ujarnya sambil berseloroh.

Eki Pitung pun sudah membentuk tim kampanye yang dibagi-bagi sesuai namanya yang unik. Misalnya ada Tim Cangkang Pisang, Tim Warteg dan Tim Nasi Uduk. Tim Nasi Uduk mencitrakan Betawi dan Tim Warteg sebagai representasi Jawa. “Ini bukan main-main tapi sarat filosofis,” ujarnya.

Eki Pitung juga berharap Jakarta seperti Bali. Artinya, kota ini harus memiliki identitas yang jelas. “Coba sekarang kalau turis asing mau mencari cinderamata Betawi di bandara atau di tempat lainnya di Jakarta, sulit menemukannya,” tuturnya.

Karena itu,  harus ada gubernur yang peduli dengan kearifan local dan budaya Betawi.  Hal ini sangat penting agar budaya Betawi terus terjaga dan terpelihara dengan baik sehingga tidak lekang ditelan jaman. “Bila saya terpilih menjadi gubernur, saya pun akan menghidupkan dan melestarikan budaya dan kearifan lokal di wilayah Jakarta ini. Bukan hanya Betawi. Jakarta ini sangat beragam lihat saja ada Kampung Ambon, Kampung Bugis, Kampung Makassar, Kampung Melayu dan banyak lagi. Belum lagi peninggalan bersejarah. Kalau masalah ekonomi dan masalah jasa itu kan ada yang ngurus karena Jakarta ini kan Ibu Kota Republik Indonesia,” pungkasnya. (ecyinthia)