Ekonomi Indonesia Harus Bertransformasi

31

JAKARTA-Kegiatan ekonomi nasional di sektor Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) telah memberikan sumbangan hingga 57,8% Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan menyerap 97,7% tenaga kerja, serta merupakan komponen terbesar (99,9%) dari unit usaha di Indonesia. Namun, dalam lingkungan ekonomi global yang sangat dinamis, dengan lansekap yang terus bergeser, bertahan saja tidaklah cukup.  Karena itu, ekonomi Indonesia juga perlu terus bertransformasi karena tingkat persaingan global semakin meningkat, sementara masih terdapat beberapa kelemahan struktural yang perlu terus dibenahi untuk memperkuat daya saing dunia usaha kita. “Untuk itu, kita perlu sepenuhnya mendukung segala upaya yang bertujuan untuk meningkatkan pengembangan UMKM dan tentunya kewirausahaan,” ungkap  Gubernur  Bank Indonesia (BI) Agus D.W. Martowardojo saat membuka penyelenggaraan Global Entrepreneurship Week (GEW) 2013 di  Jakarta, Rabu (20/11).

Perhelatan GEW 2013 ini merupakan yang kedua kalinya diselenggarakan oleh BI sebagai  Wujud komitmen bank sentral mendukung pengembangan kewirausahaan di tanah air ini sejalan dengan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) yang dicanangkan Pemerintah pada 2011.

Terbentuknya Komunitas Ekonomi ASEAN (KEA) 2015 menjadi salah satu isu yang juga perlu menjadi perhatian dalam pengembangan UMKM dan kewirausahaan. Meleburnya KEA ditandai dengan pergerakan barang, modal, jasa, investasi dan orang, bebas keluar masuk antar negara anggota ASEAN. Hal ini merupakan peluang sekaligus tantangan. Peluang, karena produk-produk kita akan mendapat pasar di kawasan ASEAN. Populasi ASEAN pada 2012 mencapai 617,68 juta jiwa dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 2,1 triliun dolar AS. Jumlah itu menunjukkan potensi besar ASEAN untuk digarap oleh wirausahawan kita.

Namun KEA juga menjadi tantangan, karena Indonesia tidak ingin hanya menjadi target pasar. Untuk itu diperlukan pengembangan wirausaha yang mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah dan daya saing yang tinggi serta mampu menembus pasar global. Untuk menjadi pemain handal yang diperhitungkan dalam skala regional, potensi UMKM yang sangat besar harus bisa lebih diangkat dan diperkaya dengan “sentuhan kewirausahaan”. “Peran wirausaha yang handal dibutuhkan agar Indonesia memiliki industri yang mandiri, baik mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kelas menengah yang terus berkembang, maupun bersaing di kancah pasar global. Niscaya, apabila kondisi ini tercapai kita akan memiliki postur neraca transaksi berjalan yang lebih sustainable,” ujar dia.

Sebagai bentuk dukungan konkrit  BI dalam rangka pengembangan sektor usaha produktif dan UMKM dari sisi pembiayaan, pada penghujung 2012 lalu BI  menerbitkan Peraturan Bank Indonesia No.14/22/PBI/2012 tentang Pemberian Kredit Atau Pembiayaan dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

Ketentuan ini kata dia mewajibkan bank umum untuk menyalurkan kredit/pembiayaan kepada UMKM sebesar 20% secara bertahap yang akan mulai diberlakukan pada 2015. Bank indonesia juga memberikan bantuan teknis berupa penelitian, pelatihan, penyediaan informasi dan/atau fasilitasi kepada UMKM, bank (bank umum/BPR/BPRS), Lembaga Pembiayaan UMKM serta Lembaga Penyedia Jasa (LPJ). Melalui PBI Nomor 14/26/PBI/2012 tentang Kegiatan Usaha Dan Jaringan Kantor Berdasarkan Modal Inti Bank, Bank Indonesia mewajibkan bank menyalurkan 55-70 persen kredit/pembiayaannya ke sektor usaha produktif, sesuai dengan modal inti bank yang bersangkutan.

Pada pembukaan GEW tahun ini, jelas dia, BI menyerahkan hadiah kepada para pemenang Kompetisi Sambal Nasional “Bertarung Inovasi Sambal Anak Negeri”. Lomba ini merupakan ajang lomba wirausaha muda yang bergerak di bidang produksi sambal dengan mendorong peningkatan skala usaha para wirausahawan yang sebelumnya hanya memasarkan produknya secara tradisional menuju pasar retail modern. Komoditi sambal dipilih karena  terkait dengan bahan baku sambal berupa cabai segar, yang merupakan salah satu komoditi penyumbang inflasi. Melalui kompetisi ini,  BI juga mengajak masyarakat untuk terbiasa mengkonsumsi cabai olahan sebagai alternatif pengganti cabai segar di saat pasokan cabai langka. Tersedianya alternatif ini akan mengurangi lonjakan inflasi dari komoditas cabai yang kerap terjadi di luar musim tanam dan panen cabai.