Ekspor Furnitur Tetap Incar Pasar Eropa

28
photo dok decorationcenter.com

JAKARTA-Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus merperluas pangsa pasar furnitur di Eropa kendati Amerika Serikat (AS) tetap menjadi pasar utama produk furnitur Indonesia. Nilai ekspor produk tersebut ke AS pada 2015 mencapai USD 648,5 juta dengan pangsa 37,96% dari seluruh pasar tujuan ekspor furnitur Indonesia. “Selanjutnya diikuti Jepang (USD 170,5 juta), Inggris (USD 86 juta), dan Belanda (USD 74,2 juta),” ujar Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag Arlinda di Jakarta, Senin (5/9).

Sementara itu, Jerman menempati peringkat ke-5 dengan nilai ekspor furnitur Indonesia mencapai USD 71,2 juta. Produk yang diekspor ke Jerman antara lain wooden furniture; seats with wooden frames, not upholstered, nesoi; seats of cane/osier, other than bamboo/rattan; seats with metal frames, not upholstered, nesoi; dan furniture of plastics, nesoi.

Secara keseluruhan, Uni Eropa (UE) menempati peringkat ke-2 sebagai pasar tujuan ekspor furnitur Indonesia pada 2015 dengan nilai sebesar USD 446,9 juta.

Ekspor furnitur EU mayoritas berasal dari dalam anggota EU. Jerman merupakan penyuplai utama ke-3 produk furnitur EU sebesar USD 6,78 miliar dengan pangsa sebesar 19,57% setelah Republik Rakyat Tiongkok (USD 10,23 miliar) dan Polandia (USD 7,05 miliar).

Sebelumnya, berdasarkan data Ditjen PEN Kemendag, total ekspor furnitur Indonesia  selama periode Januari-Mei 2016 bernilai USD 716,7 juta atau menurun 5,9% dibandingkan periode yang sama pada 2015 yang mencapai USD 758,7 juta.

Keputusan Inggris untuk berpisah dari Uni Eropa (Brexit) dapat berimbas negatif, mengingat Inggris merupakan negara tujuan ekspor furnitur terbesar Indonesia di pasar Uni Eropa (UE). “Produsen furnitur di dalam negeri harus mampu meningkatkan daya saing dan menambah pasar di negara Eropa lainnya,” ujarnya.